Slow Living Menjelang Ramadan: Mengatur Tempo Hidup di Kota Kecil

Selamat datang, Ramadan 2026!

Rasanya baru kemarin aku menyiapkan diri, eh, hari ini sudah resmi masuk hari pertama puasa. Ada rasa tenang yang beda setiap kali hilal sudah terlihat. Bukan cuma soal menahan lapar dan haus, tapi Ramadan selalu punya cara ajaib untuk “memaksa” kita menarik rem tangan dari hiruk pikuk duniawi.

Tahun ini, lagi-lagi aku merayakan Ramadan di Bondowoso. Buat yang belum tahu, Bondowoso itu tipe kota yang vibe-nya memang sudah slow living dari sananya. Nggak ada macet yang bikin emosi, nggak ada suara klakson bersahut-sautan setiap lima detik. Di sini, waktu seolah berjalan lebih lambat, dan itu sangat membantuku untuk mengatur kembali tempo hidup.

Bukan Berhenti, Tapi Mengatur Ritme

Banyak orang salah kaprah, mengira slow living itu artinya malas-malasan atau nggak ngapa-ngapain. Padahal, bagiku, slow living di bulan puasa itu justru tentang produktivitas yang punya makna.

Jujur saja, aktivitasku di Bondowoso memang nggak sepadat kalau lagi di Jakarta. Tapi, bukan berarti aku cuma tidur dari Subuh sampai Maghrib (meski tidur pas puasa itu ibadah, ya jangan keterusan juga!). Aku tetap punya misi pribadi yang cukup ambisius tahun ini: One Day One Post (tapi maaf, kemarin bolong 2 hari yaaa)

Iya, aku masih konsisten mengisi konten di dianravi.com. Dan tahun ini, aku memutuskan untuk menambah “beban” kreatif dengan ikutan Kompasiana Ramadan Bercerita 2026. Jadi, minimal sehari aku harus menghasilkan dua tulisan. Menantang? Banget. Apalagi aku menulis pakai HP.

Tapi di sinilah seninya mengatur tempo. Aku nggak mau nulis sambil grasak-grusuk. Aku pengen setiap kata yang aku ketik itu terasa “hidup”.

Berhenti Hidup Autopilot

Target utamaku di Ramadan 2026 ini sebenarnya sederhana tapi sulit dilakukan: Berhenti hidup autopilot.

Kamu pernah nggak sih, tiba-tiba sudah jam 5 sore padahal rasanya baru bangun tidur? Atau makan sahur tapi pikiran sudah melayang ke kerjaan jam 9 pagi? Itu namanya hidup autopilot. Kita berfungsi secara fisik, tapi jiwa kita entah ada di mana.

Seperti yang pernah aku tulis di artikel 5 Hal yang Ingin Aku Perbaiki di Ramadan 2026, aku ingin lebih mindful.

  • Mindful saat ibadah: Nggak sekadar ngejar target jumlah rakaat atau khataman, tapi benar-benar meresapi setiap bacaan.
  • Mindful saat bekerja: Menulis artikel bukan sekadar setor kewajiban, tapi benar-benar berbagi cerita yang barangkali bisa kasih inspirasi buat kalian.
  • Mindful saat berinteraksi: Menghargai setiap percakapan dengan keluarga tanpa terdistraksi layar HP.

Progres Rumah dan Pelajaran Sabar

Selain nulis, kegiatanku sehari-hari adalah mondar-mandir cek progres rumah Bondowoso. Membangun rumah itu benar-benar ujian kesabaran yang nyata, apalagi di bulan puasa. Ada saja detail yang harus dicek, material yang harus dipilih, atau sekadar memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.

Melihat bata demi bata tersusun, aku belajar satu hal tentang slow living: Sesuatu yang besar itu butuh proses. Kita nggak bisa minta rumah jadi dalam semalam, begitu juga dengan kualitas diri kita. Ramadan adalah waktu untuk menyusun “bata” spiritual kita satu per satu, pelan tapi pasti, sampai membentuk bangunan iman yang kokoh.

Ritual Sore: Ngabuburit di Alun-Alun Bondowoso

Nah, ini bagian yang paling ditunggu-tunggu! Kalau sudah masuk jam setengah 4 sore, hawa-hawa lapar mulai berpadu dengan semangat cari takjil.

Ritual ngabuburit di Bondowoso itu klasik banget. Tujuannya apalagi kalau bukan ke Alun-alun Bondowoso. Seperti tahun-tahun sebelumnya, di sana ada bazzar Ramadan yang meriah banget. Bau gorengan, aroma es campur yang segar, sampai jajanan kekinian semuanya tumpah ruah di sana.

Buat kalian yang mungkin lagi mampir ke Bondowoso, aku pernah bikin list kuliner yang wajib dicoba di Kuliner Kekinian Bondowoso. Serius, hunting takjil itu menurutku salah satu bentuk self-reward setelah seharian menahan diri. Melihat keramaian orang dengan senyum yang sama, senyum menanti bedug, itu rasanya hangat banget di hati.

Tips Mengatur Tempo Hidup ala Aku

Mungkin ada yang tanya, “Dian, gimana caranya tetap produktif nulis dua artikel sehari tapi nggak ngerasa burn out saat puasa?”

Berikut beberapa tips simpel yang aku terapkan:

  1. Cari “Golden Hour”-mu: Aku biasanya paling produktif nulis setelah Subuh atau setelah Tarawih. Saat perut sudah tenang dan suasana sunyi, ide lebih gampang mengalir.
  2. Jangan Multitasking berlebihan: Kalau lagi nulis, ya nulis saja. Jangan sambil mikirin menu buka puasa besok lusa. Fokus pada satu tugas bikin kita nggak gampang capek secara mental.
  3. Nikmati Perjalanan: Saat aku cek progres rumah atau jalan ke alun-alun, aku coba nikmati pemandangan. Pohon-pohon di pinggir jalan, sapaan tetangga, atau langit Bondowoso yang seringkali cantik banget pas sore hari.
  4. Maafkan Diri Sendiri: Kalau suatu hari aku merasa capek banget dan cuma bisa nulis satu artikel pendek, ya nggak apa-apa. Slow living juga berarti mengakui keterbatasan kita sebagai manusia.
  5. Ibadah sebagai Bentuk Istirahat (Recharge): Alih-alih menganggap salat atau tadarus sebagai “tugas tambahan”, aku mencoba menjadikannya momen jeda dari layar laptop. Saat mata sudah lelah menatap draf artikel, ambil wudu dan salat sunah atau baca beberapa ayat Al-Qur’an itu rasanya seperti recharge energi mental. Jadi, saat balik nulis lagi, pikiran rasanya lebih jernih dan nggak sumpek.

Ramadan Bukan Balapan, Tapi Perjalanan

Ramadan ini adalah perjalanan, bukan perlombaan lari cepat. Kita nggak perlu buru-buru ingin sampai di hari Idul Fitri. Nikmati setiap lapar yang singgah, setiap sujud yang panjang, dan setiap kata yang kita rangkai.

Mari kita pelankan tempo hidup, supaya kita bisa mendengar lebih jelas apa yang sebenarnya diinginkan oleh hati dan jiwa kita. Selamat menjalankan ibadah puasa hari pertama, teman-teman semua. Semoga Ramadan tahun ini membawa kita menjadi pribadi yang lebih tenang, lebih sabar, dan pastinya lebih mindful.

Sampai ketemu di tulisan besok!

warm hugs,

Dian Ravi

About The Author


dianravi

Dian Safitri, travel and lifestyle blogger muslimah yang berdomisili di Jakarta, Indonesia. Pecinta kopi dan makanan. IVF Surviver.

Leave a Comment