Sore: Istri dari Masa Depan, Sebuah Perjuangan Melawan Takdir dan Rasa Kehilangan

Siapa di sini yang sudah tamat nonton versi film Sore: Istri dari Masa Depan di Netflix? Kalau kamu pembaca setia atau sudah lama mengikuti perjalanan blog ini, mungkin kamu tahu kalau aku sudah jatuh cinta setengah mati sama ceritanya sejak versi web series-nya rilis tahun 2017 lalu. Rasanya baru kemarin aku duduk manis di depan laptop, menunggu tiap episodenya tayang. Waktu itu, aku bahkan sampai menulis ulasan khusus soal pesan mendalam dari Sore yang sukses bikin aku sadar kalau urusan kesehatan itu bukan cuma soal angka di timbangan, tapi soal investasi waktu bersama orang tersayang.

​Sejak saat itu, kisah Sore dan Jonathan selalu punya tempat spesial di hati aku. Makanya, begitu mendengar kabar kalau kisah ini bakal diangkat ke layar lebar, rasa senangnya nggak karuan! Apalagi saat tahu sutradaranya adalah Yandy Laurens. Jujur ya, buat aku pribadi, Yandy itu sutradara yang nggak pernah gagal (never failed!) dalam merangkai rasa. Dia punya cara ajaib untuk menyentuh sisi paling sensitif dalam diri aku lewat dialog-dialognya yang sederhana tapi “jleb” banget ke hulu hati.​

Ekspektasi aku makin tinggi saat tahu jajaran pemainnya. Di versi film ini, karakter Sore diperankan dengan sangat apik dan penuh emosi oleh Sheila Dara Aisha. Sheila berhasil membawa warna baru pada sosok Sore, lebih rapuh tapi sekaligus lebih tangguh. Sementara itu, sosok Jonathan tetap diperankan oleh si aktor kesayangan kita semua, Dion Wiyoko. Chemistry mereka berdua benar-benar bikin aku betah menatap layar sampai kredit film berakhir, membawa kembali semua memori manis (dan pahit) yang dulu pernah aku rasakan saat menonton versi mininya.

Sore Bukan Bucin, Dia Hanya Ketakutan

Ada satu hal yang mengusik aku pas baca-baca komentar orang tentang film ini. Banyak yang bilang kalau karakter Sore itu terlalu dominan, “ngatur”, atau bahkan dianggap terlalu bucin ke Jonathan sampai-sampai nggak memberikan ruang gerak. Tapi jujur, menurut aku sudut pandang itu kurang tepat dan rasanya terlalu dangkal kalau kita cuma melihat dari permukaannya saja.​

Kalau kita mencoba melihat dari kacamata Sore dan menyelami posisinya, tindakannya itu sangat bisa dimaklumi, bahkan menurutku itu adalah tindakan heroik seorang istri.

Bayangkan, kamu adalah seorang wanita yang sudah pernah merasakan hancurnya dunia saat ditinggal mati suami tercinta di usia yang sangat muda. Kamu tahu persis rasanya kesepian, dinginnya tempat tidur tanpa sosoknya, dan penyesalan yang terus menghantui. Lalu, tiba-tiba semesta kasih kamu kesempatan ajaib untuk balik ke masa lalu. Kamu bertemu lagi dengan suamimu di masa dia masih hidup, tapi di depan matamu sendiri, dia sedang melakukan semua kebiasaan buruk yang kamu tahu persis bakal membunuhnya nanti.

​Apa kamu bakal sanggup buat diam saja? Aku sih jelas nggak. Reaksi aku mungkin enggak akan jauh dari Sore. ​

Sore bersikap keras, mulai dari membuang rokok Jo, cerewet soal menu makanan, sampai memaksanya lari pagi di saat Jo masih ingin tidur, karena dia sebenarnya sedang berperang melawan trauma. Dia sedang berjudi dengan waktu. Sore nggak mau, dan nggak sanggup, kalau harus menjadi janda untuk kedua kalinya. Ketegasannya bukanlah bentuk obsesi untuk berkuasa, melainkan bentuk rasa takut yang luar biasa akan kehilangan. Buat Sore, setiap puntung rokok yang diisap Jo atau setiap malam Jo begadang, itu terdengar kayak suara lonceng kematian yang pernah dia dengar dulu. Dia sedang berupaya sekuat tenaga untuk mengubah takdir yang sudah dia ketahui ujungnya.​

Ada satu quote yang menurut aku paling nyesek, paling “jleb”, dan merangkum seluruh posisi sulit Sore di film ini:

​”Kamu janji jagain aku, bahkan dari diri kamu sendiri.”​

Kalimat ini dalem banget, ya? Sore seolah ingin mengingatkan Jo bahwa musuh terbesar yang bisa menghancurkan kebahagiaan mereka di masa depan bukanlah orang lain, bukan takdir yang kejam, melainkan kebiasaan buruk Jo sendiri. Sore berusaha sekuat tenaga untuk menjaga Jo dari sosok Jo yang abai dan lalai pada kesehatannya. Dia rela dibenci, rela dianggap pengatur, asalkan pria di depannya itu tetap bernapas sampai masa depan yang mereka impikan tiba.

Dilema Jonathan: Belum Merasa Kehilangan​

Di sisi lain, aku juga paham sih kenapa banyak penonton yang merasa geregetan dan menganggap Jonathan itu kurang usaha buat berubah. Rasanya pengen narik baju Jo dan bilang, “Ayo dong, berubah!”. Tapi kalau kita coba lebih objektif, sebenarnya respon Jo itu wajar dan manusiawi banget. Jo kan belum merasakan apa-apa. Bagi Jo, kematian itu adalah sesuatu yang abstrak, abu-abu, dan rasanya masih sangat jauh di depan sana. Dia masih ada di fase merasa “sehat-sehat saja”, jadi buat apa repot-repot berubah drastis?​

Bayangkan saja posisi Jo. Dia lagi asyik dengan hidupnya di Italia, tiba-tiba muncul Sore, seorang “orang asing” yang mengaku istrinya, lalu langsung mengacak-ngacak zona nyamannya. Dia dilarang makan ini-itu, dilarang merokok, dan dipaksa bangun pagi. Wajar banget kalau Jo merasa terinvasi dan bahkan sempat merasa terganggu. Dia belum punya memori tentang duka, sementara Sore sudah membawa beban duka itu di pundaknya setiap hari.

​Inilah konflik sentral yang menurut aku bikin film ini juara banget. Kita diperlihatkan sebuah “tabrakan” emosi yang sangat kontras: Sore yang sudah membawa beban trauma dari masa depan, berhadapan dengan Jo yang masih santai dengan kebebasan masa kini.​

Ada ketimpangan kecepatan di sini. Sore sudah “berlari” sekencang mungkin sejak awal karena dia merasa sedang dikejar oleh waktu yang terus berdetak menuju perpisahan. Sementara Jo? Dia masih berjalan santai, bahkan sesekali berhenti, karena dia belum sadar kalau ada jurang di depannya. Jo baru benar-benar menyadari pentingnya sebuah perubahan justru saat dia mulai merasakan koneksi emosional dengan Sore. Saat dia mulai menyadari kalau kehadiran wanita ini bukan cuma soal kesehatan, tapi soal seseorang yang sangat mencintainya sampai rela melintasi waktu.

​Perjalanan Jo dari seorang yang skeptis menjadi orang yang mau “bermufakat” dengan kesehatan demi seseorang yang dia cintai itulah yang membuat dinamika hubungan mereka terasa sangat nyata dan nggak dibuat-buat.

Visual dan Emosi yang Berkelas

Ngomongin soal aspek teknis, visual film ini benar-benar nggak perlu diragukan lagi kualitasnya. Sinematografinya cantik banget, khas gaya Yandy Laurens yang selalu punya selera visual yang berkelas. Setiap frame-nya terasa sangat estetik, membawa kita terbang jauh ke suasana musim panas di Italia yang hangat. Mata kita benar-benar dimanjakan dengan deretan bangunan tua yang ikonik, jalanan setapak yang romantis, hingga cahaya matahari yang masuk lewat celah jendela.​

Tapi anehnya, di balik keindahan pemandangan Petritoli yang begitu memesona itu, ada rasa melankolis yang terus-menerus membayangi. Seolah-olah keindahan di layar itu adalah sebuah “perpisahan yang diperpanjang”. Visualnya yang hangat justru terasa kontras dengan kecemasan yang dirasakan Sore, membuat kita sebagai penonton ikut merasa was-was di tengah suasana yang seharusnya romantis.​

Dan mari kita bicara soal akting. Bagiku, Sheila Dara Aisha di sini benar-benar menjadi “nyawa” utama filmnya. Sheila berhasil memberikan interpretasi yang sangat kuat pada karakter Sore. Dia bisa menampilkan sosok istri yang terlihat galak, tegas, dan tak kenal kompromi, tapi di saat yang sama, tatapan matanya nggak bisa bohong. Lewat sorot matanya yang kadang berkaca-kaca, kita bisa melihat kalau Sore sebenarnya sedang ketakutan setengah mati.​

Setiap kali Sore marah karena Jo merokok, aku nggak melihatnya sebagai seorang bos yang ingin berkuasa atau mengatur. Aku melihat seorang wanita yang sedang memohon, lewat kemarahan itu, agar suaminya jangan pergi lagi. Sheila berhasil menyampaikan pesan bahwa ketegasan Sore adalah satu-satunya tameng yang dia punya untuk menahan takdir agar tidak merenggut kebahagiaannya sekali lagi. Aktingnya bikin aku sadar bahwa kadang, di balik orang yang paling “berisik” mengingatkan kita soal kesehatan, ada hati yang paling rapuh karena takut kehilangan.

Menjaga Diri Sendiri Adalah Cara Mencintai Paling Tulus

Pada akhirnya, film ini bukan cuma soal romansa perjalanan waktu atau keajaiban fiksi ilmiah semata. Jauh di balik premis uniknya, Sore: Istri dari Masa Depan adalah sebuah pengingat yang sangat keras sekaligus lembut bagi kita semua. Film ini seolah berbisik bahwa cara kita memperlakukan tubuh kita hari ini, pilihan makanan yang kita ambil, hingga seberapa sering kita berolahraga, sebenarnya adalah cara kita menyayangi orang-orang yang bakal hidup bareng kita di masa depan.

​Sore mengajarkan kepada aku, dan semoga kepada kita semua, bahwa cinta itu bentuknya nggak selalu soal “aku sayang kamu” yang diucapkan sambil membawa bunga. Kadang, cinta adalah sebuah perjuangan yang melelahkan. Cinta adalah soal kalimat: “Aku akan lakukan apa aja, termasuk dibenci olehmu saat ini, supaya kamu nggak meninggalkan aku duluan nanti.” Sore mengingatkan kita bahwa ada tanggung jawab besar di balik sebuah hubungan, yaitu tanggung jawab untuk tetap ada dan sehat agar kita tidak meninggalkan luka lubang di hati pasangan kita terlalu cepat.​

Ternyata, menjaga kesehatan diri sendiri adalah kado terindah dan paling berharga yang bisa kita berikan untuk pasangan atau keluarga kita. Dengan hidup sehat, kita sedang berupaya memberikan mereka waktu lebih lama bersama kita. Kita sedang berusaha memastikan bahwa mereka tidak perlu merasakan duka kehilangan lebih awal hanya karena kelalaian kita sendiri. Menjadi sehat adalah cara kita “menjagakan” kebahagiaan mereka di masa depan.​

Jadi, setelah menonton film ini, aku nggak cuma merasa terhibur secara visual, tapi juga merasa diingatkan kembali untuk lebih menghargai setiap napas dan detak jantung ini. Karena di setiap hidup yang kita jalani, ada harapan orang-orang tersayang yang ingin kita tetap ada di samping mereka sampai hari tua nanti.​

Gimana menurut kamu setelah menonton versi filmnya? Apakah kamu masih merasa tindakan Sore itu terlalu berlebihan dan mengganggu? Atau kamu akhirnya sepakat sama aku, kalau dia hanyalah seorang istri yang sedang berjuang melawan trauma dan rasa takut kehilangan yang amat sangat?​

Yuk, kita ngobrol dan berbagi sudut pandang di kolom komentar! Aku penasaran banget pengen tahu gimana perasaan kalian setelah melihat perjuangan Sore dan Jo di layar lebar.

About The Author


dianravi

Dian Safitri, travel and lifestyle blogger muslimah yang berdomisili di Jakarta, Indonesia. Pecinta kopi dan makanan. IVF Surviver.

Leave a Comment