Mimpi Itu Bernama Shanghai

Bismillahirohmanirohim,

To those who dream, there is no such place as far away

Bermimpi itu kan gratis ya. Aku paling senang kalau disuruh bermimpi tentang traveling, rasanya  ga akan ada habisnya deh daftar tempat yang ingin aku tuju, bumi ini terlalu besar untuk berhenti bermimpi. Makanya pas tahu kalau Noni Khairani dan Febby lagi bikin giveaway dengan tema “Destinasi Impian”, aku bakal ngerasa rugi kalau ga ikutan.

The big question is: What's your dream destination?

Ada banyak sekali destinasi imimpian yang aku inginkan. Mulai dari  keliling Indonesia, hingga keliling dunia. Terkesan terlalu muluk? Biarlah, kan segala sesuatunya berawal dari mimpi. Siapa tahu aja Dewa Traveling mendengar mimpiku ini kemudian bermurah hati mewujudkannya. Rejeki kan bisa datang dari mana saja.

Diantar sekian banyaknya tempat-tempat yang ingin aku tuju, ditulisan kali ini aku ingin menceritakan soal sebuah mimpi yang bernama Shanghai.

Shanghai, kota terbesar di Cina ini katanya memiliki dua wajah yang bertolak belakang. Satu sisi begitu modern, sementara di bagian lain justru mempertahankan kesan klasik dari kota Shanghai. Kota yang memiliki julukan kota sejuta cahaya ini dulunya hanyalah sebuah desa nelayan kecil, yang kemudian berkembang hingga akhirnya kini menjadi kota terbesar kedelapan di dunia.

Mas Met sebenarnya sudah pernah mengunjungi Shanghai beberapa tahun lalu, dalam rangka pameran dari kantor di Hong Kong (iya pamerannya di Hong Kong, tapi main ke Shanghai, istrinya sedih ga diajak). Tapi menurut dia masih belum puas ngubek-ngubek Shanghai karena memang cuma dua hari. Berbekal dari cerita Mas Met soal Shanghai itulah mimpi aku tentang Shanghai pun semakin berkembang. Alasan lain untuk mengunjungi Shanghai adalah kota ini merupakan lokasi syuting serial Kabut Cinta, salah satu serial Cina kesukaan aku beberapa tahun lalu.

I dare to built a dream to Shanghai

Jadi, mau ngapain aja kalau beneran bisa ke Shanghai? Ada beberapa tempat dan kegiatan yang ingin aku lakukan kalau bisa mewujudkan impian ke Shanghai ini. Simak yuk listnya.

The Bund

pic taken by Mas Met

Kalau kata Mas-Mas Wikipedia, The Bund adalah dermaga yang berada di pusat kota Shanghai. Sambil menikmati keindahan sungai Huangpu, kita juga bakal bisa menikmati deretan bangunan tinggi yang berada di sekitarnya. Berada di jajaran The Bund juga terdapat bangunan-bangunan kuno yang bergaya Eropa. Katanya sih menikmati The Bund ini cocok dalam segala waktu, mau pagi, siang, ataupun malam The Bund tetap terlihat indah.

pic taken by Mas Met

Selain menikmati kota Shanghai, di The Bund ini kita juga melakukan Huangpu River Cruise, alias susuri sungai Huangpu dengan kapal. Sambil menyusuri sungai Huangpu inilah kita bisa menikmati kota Shanghai dari dua sisi yang berbeda sekaligus, yaitu sisi bangunan kuno penginggalan jaman kolonial serta sisi modern.

Oriental Pearl Tower

Pic source : Pixabay

Sesaat aku mendadak teringat akan Namsan Tower yang aku kunjungi di Seoul setahun yang lalu. Agak sedikit mirip, karena memang sama-sama menara TV dan radio. Oriental Pearl Tower ini merupakan ikon kota Shanghai dengan ketinggian 486 meter. Lokasinya berada di seberang The Bund. Jadi kalau sebelumnya kita melihat kota Shanghai dari The Bund, di sini kita melihat dari sisi lainnya dari ketinggian pula. Yang menarik, lantai tempat menara pandangnya berupa kaca. Jadi bayangkan kita bisa melihat ke bawah dari ketinggian 400 m. Berani? Kayanya aku sih masih belum. Semoga aja kalau pas ke Shanghai nanti udah berani.

Selain menikmati pemandangan kota Shanghai dari atas, di Oriental Pearl Tower ini juga terdapat Shanghai History Museum di lantai bawahnya. Masa iya kalau udah sampai Shanghai tapi ga belajar sejarahnya. Rugi dong ya buat aku yang justru senang belajar sejarah. Nah katanya di museum inilah kita bakal disuguhi bagaimana sejarah Shanghai.

Shanghai Film Park

Dari nama tempatnya aja sepertinya aku tak perlu lagi menjelaskan tempat apa ini. Iya, ini semacam studio tempat film-film Cina dibikin. Barusan aku ngintip foto-fotonya lewat Mbah Google, air liurku pun ga kuasa menetes. Bangunan-bangunan tua tampak di sana sini. Kayanya memang studionya disulap semacam Shanghai tempo dulu.

Yu Yuan Garden

Pic source: pixabay

Yu Yuan atau Yu Garden memiliki arti taman bahagia. Hmmm apakah kalau aku ke sini aku akan semakin bahagia? Pastinya! Yu Yuan Garden  adalah taman klasik yang dibuat pada tahun 1577. Taman yang  memiliki luas sekitar 20.000 meter persegi ini terdapat sebuah bangunan khas Cina yang mengingatkan aku akan film Putri Huan Zhu (Duh iya, aku memang bukan penggemar drama Korea, tapi justru suka sama film-film Cina dengan nuasan klasik). Di tempat ini juga ada batu giok berukuran besar, dan punya 72 lubang.

pic taken by Mas Met

Tak jauh dari Yu Yuan Garden ini terdapat juga Yu Yuan Bazaar.  Belanja untk oleh-oleh atau tanda mata untuk dipajang di rumah bisa sekalian beli di tempat ini. Katanya harga di sini cukup terbilang ramah dompet. The most important thing in the world: murah!

Waibaidu Bridge

“Aku mau lihat Waibaidu Bridge, pokoknya!” aku bersikeras memasukkan jembatan yang terbuat dari baja pertama di Shanghai ke dalam list yang ingin dilihat. Mas Met bingung, apa menariknya jembatan yang punya arti Jembatan Taman dalam bahasa Indonesia. Sekilas memang jembatan ini kayanya biasa banget. Tapi yang Mas Met ga tahu, jembatan ini punya nilai historis dalam film Kabut Cinta. So, tahu kan kenapa aku memaksa ingin melihat jembatan ini.

Waidaibu Bridge ini juga merupakan landmark kota tua Shanghai, yang dibangun diatas sungai Huangpu yang menghubungkan bagian utara dan selatan kota Shanghai. Jembatan ini juga merupakan saksi akan perubahan kota Shanghai, lebih dari 100 tahun lamanya. Konon, lebih dari 150 tahun yang lalu, saat jembatan ini belum ada, satu-satunya cara untuk menyeberanginya harus menggunakan kapal ferry. Namun seiring bertambahnya jumlah penduduk yang ingin menyeberang, kapal ferry pun tak lagi dapat menampung, hingga akhirnya dibangun jembatan dari kayu. Namun, penduduk Cinanya sendiri harus membayar untuk menyeberang jembatan. Hal ini menuai protes, dan akhirnya dibangunlah jembatan dari baja pertama ini.

Qibao Old Street

Pic source: Pixabay

Apalah artinya ke Shanghai kalau ga bisa melihat kota tuanya. Daerah ini dibangun di jaman Dinasti Northern Song sekitar tahun 960- 1126 dan semakin berkembang pada jaman Disnasti Ming dan Dinasti Qing. Susuri bangunan-bangunan tua di sepanjang sungai Puhui pasti sangat menyenangkan. Bukan cuma akan terlihat instagramable ketika berfoto, tapi rasanya aku bakal penasaran dengan cerita-cerita di setiap bangunannya.

Selain menyuguhkan keindahan kota tua, daerah ini juga ada objek wisatanya, seperti Qibao Temple, Zhou’s Miniature Museum, Cricket House, dan masih ada beberapa tempat wisata lainnya.

Your dream doesn’t have an expiration date. Take a deep breathe and try again

Itu tadi daftar tempat-tempat yang ingin aku kunjungi kalau bisa mewujudkan mimpi ke Shanghai. Entah kapan mimpi itu akan bisa terwujud. Yang penting, bermipi saja dulu. Toh, segala sesuatu berawal dari mimpi.  Kalau ada yang selalu aku percayai adalah, jangan pernah takut bermimpi. Ga penting hasil akhirnya mimpi itu akan berhasil atau engga, yang penting kita sudah memiliki mimpi, dan ga lupa berdoa dan berusaha untuk mewujudkannya.

” Tulisan di atas diikutsertakan untuk giveaway milik Nyonya Sepatudan Jalan2liburan

9 Comments

  1. emang bener ya mimpi jalan jalan itu gak ada tanggal expired nya, malah bikin kerja ngumpulin uang jd makin semangat 🙂
    semoga impian Shanghai nya segera kejadian ya, jgn lupa kirimi aku kartu pos dari sana ya 🙂

    Terima kasih udah join ngeramein giveaway kita berdua, Di !

  2. Mending beli buku “Wisata Hemat Shanghai” dulu. Cari via priceza(dot)co(dot)id ajah, biar dapat yg murah
    Nah…abis baca bukunya…makin kesemsem deh sm Shanghai. InshaAllah dg niat yg kuat, tujuan akan lekas tercapai

    Good luck

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *