Memilih tempat tinggal di tengah kota sering dianggap sebagai keputusan praktis bagi pasangan yang sama-sama bekerja. Lokasi yang dekat kantor, pusat hiburan, fasilitas kesehatan, transportasi umum, hingga pusat perbelanjaan memang dapat menghemat waktu. Namun, harga sewa atau cicilan bukan satu-satunya pengeluaran yang perlu diperhitungkan. Saat menyusun anggaran rumah tangga, pasangan juga perlu menyisihkan dana untuk kebutuhan jangka panjang, termasuk asuransi keluarga sebagai perlindungan finansial, agar biaya hunian tidak menghabiskan seluruh ruang dalam anggaran bersama.
Tempat tinggal di kawasan strategis justru dapat menghadirkan sejumlah biaya tambahan yang tidak selalu terlihat ketika pasangan pertama kali melihat harga hunian. Jika tidak dihitung sejak awal, pengeluaran tersebut bisa membuat anggaran bulanan membengkak.
Bahkan, data BPS menunjukkan bahwa pengeluaran untuk perumahan dan fasilitas rumah tangga merupakan salah satu komponen besar dalam pengeluaran nonmakanan masyarakat Indonesia. Pada 2024, rata-rata pengeluaran per kapita per bulan untuk kelompok tersebut mencapai Rp466.124.
Lantas, biaya tersembunyi apa saja yang perlu diperhitungkan?
1. Biaya listrik yang lebih tinggi
Hunian di tengah kota sering dilengkapi berbagai perangkat elektronik untuk menunjang kenyamanan, seperti AC, water heater, kulkas, mesin cuci, microwave, hingga perangkat kerja.
Biaya listrik pun sebaiknya tidak hanya diperkirakan berdasarkan tagihan penghuni sebelumnya. Daya listrik, jumlah perangkat, dan kebiasaan penggunaan dapat membuat konsumsi setiap pasangan berbeda.
Sebagai gambaran, PLN mencatat tarif listrik rumah tangga berbeda berdasarkan golongan daya. Pada 2025, misalnya, tarif rumah tangga non-subsidi untuk daya 1.300–2.200 VA tercatat Rp1.444,70 per kWh, sedangkan golongan 3.500–5.500 VA sebesar Rp1.699,53 per kWh.
Karena tarif dapat mengalami penyesuaian, pasangan sebaiknya memasukkan listrik sebagai pos anggaran tersendiri, bukan menganggapnya bagian dari harga sewa.
2. Biaya air dan fasilitas gedung
Hunian vertikal atau apartemen biasanya memiliki mekanisme penagihan air dan fasilitas yang berbeda dengan rumah tapak. Ada pula biaya tambahan untuk fasilitas tertentu atau pemakaian yang melebihi batas tertentu.
Sebelum menandatangani kontrak, pasangan perlu menanyakan bagaimana air dihitung, apakah terdapat biaya administrasi, dan fasilitas apa saja yang sudah termasuk dalam pembayaran bulanan. Pertimbangan lokasi juga penting, ketika pasangan membandingkan apartemen dekat MRT Jakarta dengan hunian yang lebih jauh. Selisih harga sewa sebaiknya dibandingkan dengan potensi penghematan transportasi dan waktu perjalanan, bukan dilihat dari nominal sewanya saja.

BPS sendiri secara rutin mencatat harga konsumen untuk kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga di 150 kabupaten/kota. Ini menunjukkan bahwa komponen tersebut memang merupakan bagian penting dalam struktur pengeluaran rumah tangga.
3. Biaya transportasi yang justru membesar
Tinggal di tengah kota belum tentu otomatis membuat biaya transportasi lebih murah. Lokasi yang terlihat dekat kantor bisa saja membuat pasangan lebih sering menggunakan taksi online karena hujan, lembur, atau keterbatasan transportasi pada jam tertentu.
Sebaliknya, hunian yang sedikit lebih jauh tetapi dekat stasiun atau koridor transportasi umum mungkin menghasilkan pengeluaran perjalanan yang lebih terkendali.
Karena itu, jangan hanya menghitung jarak tempat tinggal ke kantor. Hitung pula frekuensi perjalanan, tarif transportasi, biaya parkir, tol, bahan bakar, dan perjalanan spontan selama satu bulan.
4. Biaya parkir kendaraan
Pasangan yang masih menggunakan mobil atau motor juga perlu memperhatikan biaya parkir. Hunian dengan lokasi strategis belum tentu menyediakan parkir gratis untuk setiap penghuni.
Biaya parkir bulanan dapat menjadi pengeluaran tetap, sementara tarif parkir di luar hunian bisa muncul ketika pasangan bekerja, bertemu klien, berbelanja, atau menikmati hiburan di sekitar tempat tinggal.
Jika salah satu pasangan bekerja hybrid, frekuensi kendaraan keluar-masuk juga sebaiknya dihitung agar estimasi tidak terlalu rendah.
5. Biaya perawatan dan perbaikan kecil
Kerusakan kecil sering tidak masuk dalam perhitungan ketika pasangan memilih hunian. Padahal, kebutuhan seperti mengganti lampu, memperbaiki keran, membersihkan AC, membeli filter, atau mengganti peralatan rumah tangga dapat muncul secara berkala.
Bagi penyewa, penting untuk mengetahui bagian mana yang menjadi tanggung jawab pemilik dan mana yang harus dibayar penghuni. Sementara bagi pemilik rumah, dana perawatan sebaiknya disiapkan sebagai pos khusus.
6. Biaya gaya hidup karena tinggal di kawasan strategis
Ini merupakan biaya yang paling mudah diabaikan.
Tinggal dekat restoran, coffee shop, pusat perbelanjaan, tempat hiburan, dan layanan pesan-antar memang nyaman. Namun, kemudahan tersebut juga dapat mendorong pasangan lebih sering makan di luar atau melakukan pembelian impulsif.
Artinya, lokasi strategis bukan hanya memengaruhi biaya hunian, tetapi juga pola konsumsi. BPS bahkan menyediakan data pengeluaran konsumsi rumah tangga berdasarkan berbagai kelompok barang dan jasa untuk melihat pola pengeluaran masyarakat.
7. Biaya pindahan dan penyesuaian hunian
Biaya terakhir muncul bahkan sebelum pasangan benar-benar nyaman tinggal di tempat baru. Pindahan dapat melibatkan ongkos kendaraan, jasa angkut, pembelian furnitur, peralatan dapur, tirai, perlengkapan kebersihan, hingga kebutuhan penyimpanan.
Jika memilih hunian dengan ukuran lebih kecil, pasangan mungkin juga harus membeli furnitur multifungsi atau mengganti beberapa barang lama agar sesuai dengan ruang yang tersedia.
Jangan hanya bandingkan harga sewanya
Pada akhirnya, tempat tinggal yang terlihat murah belum tentu menjadi pilihan paling ekonomis. Pasangan sebaiknya menghitung total cost of living, bukan hanya harga sewa atau cicilan.
Buat simulasi sederhana dengan menjumlahkan biaya hunian, listrik, air, transportasi, parkir, perawatan, gaya hidup, serta pengeluaran awal untuk menempati tempat tersebut. Dengan cara ini, pasangan dapat mengetahui apakah lokasi strategis benar-benar membantu menghemat waktu dan uang atau justru menciptakan beban baru setiap bulan.
Yang terpenting, keputusan tempat tinggal sebaiknya disesuaikan dengan pola hidup dan kemampuan finansial bersama. Hunian ideal bukan selalu yang paling dekat dengan pusat kota, melainkan yang memberikan keseimbangan antara lokasi, kenyamanan, waktu, dan total biaya bulanan.
