Ada jenis patah hati yang tidak melulu tentang manusia, tentang pasangan, atau tentang cinta yang padam. Kadang, patah hati datang dari hal-hal yang paling kita perjuangkan dengan seluruh isi dada: sebuah tempat yang kita sebut rumah.
Aku sedang merasakannya sekarang. Beneran patah hati. Bukan sama suami, melainkan sama perumahan yang kami tempati di Bondowoso ini.
Mengingat Kembali Janji Manis di Bulan Februari
Kalau ingat-ingat lagi, artikel terakhir di blog ini tentang rumah Bondowoso diunggah bulan Februari lalu. Waktu itu, progresnya sudah sekitar 85 persen. Aku menulisnya dengan mata berbinar, penuh optimisme, dan bayangan-bayangan manis tentang masa depan.
Tapi setelah tulisan itu terbit, aku nyaris tidak pernah cerita lagi soal rumah ini. Bukan karena lupa, bukan juga karena kesibukan yang menyita waktu. Aku diam karena ada terlalu banyak kekecewaan yang menumpuk di balik prosesnya.
Awalnya, developer menjanjikan semuanya akan selesai sekitar bulan Februari. Tapi kenyataan di lapangan tidak semanis kalimat-kalimat manis di brosur. Hari demi hari berlalu, minggu berganti bulan, hingga akhirnya serah terima kunci baru benar-benar dilakukan pada 19 April 2026. Dan proses serah terima itu pun tidak berjalan romantis, kami lewati dengan emosi yang menguras energi.
Tapi, sebagai manusia yang selalu ingin memeluk harapan baru, aku berusaha berdamai.
Living in Bondowoso 2.0: Membawa Mimpi Baru
Bulan Juni kemarin, aku sempat kembali ke Jakarta. Ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan di sana, sekaligus mulai mengepak barang-barang yang akan diboyong ke Bondowoso. Jakarta dengan segala riuhnya saat itu rasanya cuma jadi tempat transit sementara buat pikiranku yang sudah melayang ke timur Jawa.
Tanggal 9 September, kami akhirnya kembali ke Bondowoso. Aku menyebut momen ini sebagai Living in Bondowoso 2.0: a slow life in progress.
Aku membawa mimpi-mimpi baru di dalam koper dan kardus yang kami angkut. Apalagi waktu itu kitchen set impianku sudah jadi, tinggal di-setup begitu kami tiba. Bayanganku sangat sederhana dan manis: semuanya akan berjalan lancar, aku bisa segera menjalankan hari-hari yang tenang di rumah baru, memasak, dan kembali produktif bikin konten di dapur pink-ku. Tempat yang dari jauh-jauh hari sudah aku bayangkan jadi sudut paling hangat di rumah ini.
Ketika Drama Bangunan Kembali Datang
Namun, ternyata drama itu belum mau selesai.
Semua bayangan indah itu menguap saat aku melangkah ke dapur. Tembok dapurku kembali retak. Tidak cuma itu, dinding keramiknya pun hampir lepas dan ikut retak. Aku sengaja memakai kata kembali, karena jujur saja, sebelum aku berangkat ke Jakarta di awal Juni lalu, kondisi retak ini sudah pernah terjadi.
Waktu itu, karena rumah ini masih dalam masa garansi, aku langsung melapor. Tukang datang, perbaikan dilakukan, dan mereka meyakinkanku dengan janji yang mantap bahwa kerusakan seperti ini tidak akan terulang lagi. Aku percaya. Aku ingin percaya.
Tapi ternyata janji itu rapuh sekali. Sekarang, kejadian yang sama terulang lagi.
Janji Garansi dan Hasil Kerja yang Bikin Elus Dada
Proses untuk meminta hak garansi kali ini pun tidak kalah melelahkan. Butuh waktu lebih dari dua minggu, berulang kali berkirim pesan dan membuang energi untuk sekadar follow up, sampai akhirnya tukang datang ke rumah untuk memperbaiki. Itu pun baru terjadi kemarin.Saat melihat tukang mulai bekerja, sejujurnya hati kecilku mulai merasa tenang. “Akhirnya selesai juga,” pikirku.
Tapi rasa lega itu cuma bertahan beberapa jam. Ketika mereka selesai bekerja dan aku melihat hasilnya dari dekat, dadaku rasanya makin sesak. Backsplash keramik yang baru dipasang ternyata tidak lurus. Garis-garisnya miring, tampak asal-asalan. Dan yang paling bikin nyesek: stok keramik cadangan yang aku punya sekarang sudah habis sama sekali.
Aku berdiri di tengah dapur pink-ku, memandangi tembok yang dipasang tidak lurus itu, dan rasanya mau menangis saat itu juga.
Love & Hate dengan Perumahan Bondowoso
Lalu, apa sih yang sebenarnya bikin aku terpukul dan patah hati sampai sejauh ini?
Aku patah hati pada janji-janji manis yang diumbar pihak perumahan saat awal bertransaksi. Mereka berjanji bahwa bangunan ini didirikan dengan bahan-bahan yang berkualitas tinggi, diproses dengan standar yang baik. Tapi nyatanya? Rumah ini belum juga genap berusia enam bulan, dan kondisi tembok sudah menunjukkan banyak retak di sana-sini. Belum lagi urusan komunikasi dengan pihak developer yang bolak-balik menguji kesabaran dan bikin aku kelelahan secara mental.
Rasanya seperti terjebak dalam hubungan yang toxic. Aku lagi berada di fase love and hate secara bersamaan terhadap rumah ini:
- Sisi Love: Aku suka banget sama perumahan ini. Aku suka lingkungannya yang tenang, aku suka tetangganya, aku suka konsep dan desain rumahku sendiri. Rumah ini punya potensi besar untuk jadi tempat berlindung yang paling nyaman.
- Sisi Hate: Aku sudah berada di fase yang capek banget. Capek harus terus-menerus berurusan, berdebat, dan menagih iktikad baik dari pihak developer hanya untuk mendapatkan apa yang seharusnya menjadi hakku sebagai pembeli.
Belajar Menerima Proses Slow Life
Hari ini, tukang masih berada di rumah, melanjutkan pekerjaannya untuk mencoba merapikan keramik dinding dapur yang miring kemarin. Suara ketukan dan debu semen kembali memenuhi udara.
Tapi jujur saja, kali ini aku sudah tidak berani terlalu berharap banyak. Aku memilih menepi, mengamati dari jauh, dan tidak mau menaruh ekspektasi setinggi dulu lagi. Kalau hasilnya bagus, aku akan sangat bersyukur. Tapi kalaupun masih ada kurangnya, mungkin ini saatnya aku belajar merelakan separuh kesempurnaan yang semula aku impikan.
Mungkin ini pelajaran berharga tentang mengelola ekspektasi. Bahwa membangun atau membeli rumah bukan cuma tentang memilih warna cat, menata furnitur, atau membayangkan sudut-sudut estetis untuk difoto. Ada proses melelahkan di balik dinding-dindingnya yang kadang tidak terlihat oleh orang lain.
Dapur pink-ku mungkin belum sempurna hari ini. Garis keramiknya mungkin masih menyisakan jejak drama, dan rasa kecewaku masih belum sepenuhnya hilang. Tapi untuk saat ini, aku cuma ingin menghela napas panjang, menuangkan kekesalan ini ke dalam tulisan, dan pelan-pelan belajar menerima bahwa slow life yang aku cari di Bondowoso ini memang benar-benar sebuah progress, yang jalannya kadang berlubang, berdebu, dan tidak selalu lurus.



