Satu bulan. Ternyata butuh waktu tepat tiga puluh hari sampai akhirnya pertahananku runtuh juga. Sambil menatap rintik hujan yang membasahi jalanan di depan rumah, aku akhirnya berbisik pelan pada diri sendiri, “Aku kangen rumah putih di Jakarta.”
Pulang ke Bondowoso untuk jangka waktu agak lama adalah babak baru yang kupikir akan berjalan semulus rencana di kepala. Tapi nyatanya, rindu itu seperti tamu tak diundang; dia datang tiba-tiba, duduk manis di pojok hati, dan membuatku mendambakan segala hal tentang rumah yang dulu memberiku kebebasan penuh.
Hilangnya Keleluasaan: Antara Kanvas Putih dan Ruang yang Menyempit
Kalau ada satu hal yang paling ingin aku tangisi saat ini, itu adalah hilangnya keleluasaan bergerak. Seumur hidup, aku tidak pernah merasakan bagaimana rasanya hidup di ruang terbatas, aku tidak pernah mengekos. Sejak kecil, aku tumbuh di rumah yang cukup besar dengan kamar tidur yang luas, tempat di mana pandanganku tidak terbentur dinding dalam jarak hanya dua-tiga langkah. Di Jakarta, rumah putih itu bukan sekadar bangunan; ia adalah kanvasku, sebuah oase di mana aku memegang kendali penuh atas setiap jengkalnya.
Aku rindu momen-momen sederhana yang dulu kuanggap biasa, seperti ngobrol ngalor-ngidul dengan ART-ku di rumah. Usia kami yang hanya terpaut satu tahun membuat sekat majikan-asisten itu lebur. Kami bisa tertawa lepas, berbagi cerita receh, hingga berdiskusi tentang hal-hal tidak penting yang justru membuat hari-hariku terasa hidup. Dia bukan sekadar asisten, tapi teman satu frekuensi yang membuat rumah selalu terasa hangat karena aku bisa menjadi diriku sendiri di depannya.
Di sana, aku adalah sutradara bagi ritme hidupku sendiri. Aku bisa bangun pagi, menyeduh kopi, dan memulai hari dengan ritme yang aku atur sendiri tanpa perlu merasa sungkan dengan siapa pun. Tidak ada beban untuk selalu terlihat “siap” atau harus menjaga sikap karena ada orang lain di luar pintu kamar. Aku bisa menjadi versi diriku yang paling jujur dan santai.
Namun kini, di Bondowoso, aku merasakan sebuah kontras yang menyesakkan dada. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa ruang gerakku seolah menyusut drastis, terkompresi hanya dalam empat dinding kamar tidur. Bagiku yang terbiasa dengan kamar luas, transisi ini terasa seperti kehilangan “oksigen” kreatif. Ada perasaan rikuh yang sulit dijelaskan untuk “ekspansi” ke ruang tengah atau berlama-lama di ruang tamu. Setiap kali kaki ini melangkah keluar kamar, ada perasaan asing yang membisikkan bahwa aku harus selalu terjaga, meski secara status ini adalah rumah keluarga.
Rasa sesak ini makin terasa saat gairah kreatifku muncul. Jiwa journaling-ku meronta-ronta ingin menata meja, menghamparkan koleksi stiker, gulungan washi tape, dan kertas-kertas jurnal yang estetik. Aku rindu momen “ngeberantakin” meja kerja yang luas sebagai bentuk katarsis. Tapi kenyataannya? Niat itu selalu urung. Aku menatap meja yang terbatas dan ruangan yang terasa sangat kecil dibanding standarku biasanya, lalu membayangkan betapa repotnya harus menjaga semuanya tetap rapi agar tidak terlihat mencolok bagi penghuni rumah lainnya.
Kreativitas butuh ruang, bukan cuma di kepala, tapi juga secara fisik. Dan saat ini, keterbatasan ruang itu perlahan mulai mematikan semangatku untuk sekadar “ngide”, masak, atau bikin konten video. Aku merindukan kebebasan untuk berantakan di ruangan yang luas tanpa harus merasa bersalah. Aku merindukan rumah putihku, di mana aku bisa bergerak bebas dan bernapas lega, tanpa perlu menimbang-nimbang apakah keberadaanku mengusik ritme orang lain.
Rindu Layar Lebar dan Sinyal yang “Sakit-sakitan”
Salah satu hobi terbesarku adalah nonton. Entah itu maraton serial di kamar atau pergi ke bioskop. Tapi selama sebulan di Bondowoso? Aku belum nonton sama sekali! Rasanya ada bagian dari diriku yang mendadak kosong.
Di Jakarta, aku biasa menikmati film dari TV sambil rebahan santai di kasur dengan koneksi WiFi yang kencang. Di sini? Wah, perjuangan! Koneksi WiFi seringkali timbul tenggelam karena terlalu banyak yang memakai. Jangankan mau streaming film kualitas HD, buat update konten saja kadang butuh kesabaran ekstra. Rasanya seperti sedang dipaksa untuk benar-benar detox hiburan, padahal jiwaku sedang haus asupan film.
Dapur yang “Dingin” dan Tragedi Panci Listrik dalam Dus
Kondisi di rumah keluarga Masmet ini memang unik dan memiliki atmosfer yang jauh berbeda dengan rumahku di Jakarta. Semenjak Ibu Mertua meninggal dunia, kebiasaan di rumah ini pun ikut berubah drastis. Karena tidak ada lagi sosok “ratu dapur” yang biasanya menghidupkan suasana dengan denting sutil dan aroma masakan rumah, keluarga di sini jadi lebih terbiasa membeli makanan jadi. Dapur yang seharusnya jadi jantung rumah terasa “dingin” dan sepi.
Sebenarnya, Masmet (suamiku) baik sekali. Dia sering banget menawariku untuk menggunakan dapur, bahkan membebaskanku untuk mengeksplorasi apa saja yang ada di sana. Tapi, jujur saja, nyaliku langsung ciut begitu menginjakkan kaki di lantai dapur. Ada beban mental yang sulit dijelaskan. Kemampuan masakku yang jauh di bawah rata-rata ini membuatku merasa terintimidasi oleh dapur yang sudah punya “sejarah” dan standarnya sendiri.
Bayangkan saja, masak untuk Mama dan Papa di rumah sendiri, tempat di mana aku sudah sangat hafal letak garam dan merica, saja aku masih sering tidak percaya diri dan gemetaran. Apalagi di sini? Aku rindu momen “ngide” masak, di mana aku bisa bebas bereksperimen, mencoba resep aneh dari TikTok, dan bahkan gagal total tanpa perlu merasa diawasi atau merasa tidak enak pada siapa pun. Aku rindu bau bumbu dapur di rumah putihku, tempat di mana aku adalah pemegang otoritas penuh, meski hanya untuk sekadar menggoreng telur yang sedikit gosong.
Karena aku sadar diri dengan kemampuan masakku dan rasa sungkan yang besar untuk memakai dapur utama, aku sempat memutar otak. Aku pikir, “Oke, kalau nggak berani di dapur umum, aku harus punya dapur mini sendiri di kamar.” Demi misi “keleluasaan bergerak” ini, aku pun sengaja membawa “amunisi” dari Jakarta: sebuah kompor listrik dan teko listrik. Bahkan, saking semangatnya ingin tetap bisa berkreasi kuliner kecil-kecilan, aku sampai bela-belain beli panci listrik baru. Bayanganku sudah indah: aku bisa bikin ramen, merebus telur, atau sekadar menumis sayur simpel di sudut kamarku tanpa harus merasa kikuk di dapur bawah.
Namun, realita di Bondowoso berkata lain.
Suatu sore, aku mencoba meresmikan “dapur darurat”-ku dengan menyalakan teko listrik untuk menyeduh kopi. Belum juga airnya mendidih, tiba-tiba… pet! Seluruh rumah gelap gulita. Listrik rumah langsung padam alias ngejepret karena tidak kuat menahan beban daya teko listrikku.
Seketika itu juga, semangatku ikut padam bersama aliran listrik rumah. Aku terduduk lemas sambil menatap panci listrik yang masih rapi berada di dalam dusnya. Sejak kejadian itu, aku tidak berani lagi menyentuh benda-benda elektronik itu. Si panci listrik yang tadinya diharapkan jadi penyelamat kreativitas kulinerku, kini hanya teronggok diam di pojokan kamar, menjadi saksi bisu betapa sulitnya mencari celah untuk sekadar “bergerak” di sini. Akhirnya, keinginan untuk berkreasi di dapur, baik dapur beneran maupun dapur listrik, harus kupendam dulu dalam-dalam.
Alun-Alun Bondowoso: Penyelamat di Kala Sore
Satu-satunya hiburan yang benar-benar menjadi penyelamat kewarasanku di tengah rasa homesick ini adalah ritual sore hari: berburu takjil di Alun-alun Bondowoso. Ada energi yang berbeda saat aku menginjakkan kaki di sana. Melihat keramaian orang yang hilir mudik, mencium aroma gorengan yang baru diangkat, hingga bingung memilih deretan jajanan pasar adalah caraku berdamai dengan keadaan. Di sana, aku merasa menjadi bagian dari kota ini, bukan sekadar “penghuni kamar” yang sedang merantau.
Momen ini sebenarnya sangat berkesan buatku, saking serunya, aku bahkan sempat mengabadikan betapa hidupnya suasana di sana dalam tulisan Serunya Berburu Takjil di Festival Ramadhan Bondowoso. Berada di tengah keriuhan itu memberiku napas baru; sebuah jeda dari rasa sunyi yang menyergap selama di rumah.
Sayangnya, belakangan ini alam sepertinya sedang ingin aku lebih banyak “berdiam diri” dan melatih kesabaran. Beberapa hari terakhir, langit Bondowoso hampir selalu berubah abu-abu pekat tepat saat jam takjil dimulai. Hujan turun dengan derasnya, seolah menutup aksesku menuju satu-satunya hiburan sore itu.
Pupus sudah harapan untuk sekadar jalan-jalan sore atau cuci mata melihat hiruk pikuk festival. Aku terpaksa puas dengan jajanan seadanya yang dijual di dekat rumah saja. Sederhana memang, dan rasanya pun tidak buruk, tapi tetap saja ada yang hilang. Tanpa atmosfer Alun-alun yang riuh, rasa sepi itu jadi lebih cepat datangnya. Menikmati takjil di dalam kamar sambil mendengarkan suara hujan di luar sana justru membuat ingatan tentang rumah putih di Jakarta makin kuat menarik-narik hati.
Menunggu “Rumah” Menjadi Nyata
Jika ada satu hal yang membuatku tetap tegak berdiri dan tidak menyerah pada rasa tidak nyaman ini, itu adalah bayangan tentang rumahku sendiri yang kini sedang dalam proses pembangunan. Setiap kali rasa homesick menyerang atau saat aku merasa “terkepung” di ruang yang sempit, aku mencoba menghibur diri dengan membayangkan hari di mana aku bisa memegang kunci rumah itu sendiri.
Saat ini, aku benar-benar berada di titik di mana fisik rumah itu menjadi harapan terbesar. Aku bahkan sering bergumam sendiri, “Nggak apa-apa deh kalau nanti pindah ke sana meskipun isinya belum ada apa-apa. Biarpun cuma ada kasur di lantai dan satu lampu, yang penting itu milikku.”
Aku tidak butuh furniture mewah atau dekorasi mahal untuk saat ini. Yang aku butuhkan hanyalah privasi dan keleluasaan bergerak. Aku ingin bisa kembali menjadi Dian yang bebas berkreasi tanpa batas, bebas ngeberantakin meja dengan koleksi jurnal, bebas melakukan take video konten tanpa merasa diawasi, dan tentu saja, bebas untuk “gagal” di dapur sendiri tanpa perlu merasa sungkan pada siapa pun.
Lagi pula, rasanya penantian ini sudah hampir sampai di garis finish mengingat progres rumah Bondowoso yang sudah mencapai 85 persen. Melihat perkembangan itu seperti melihat cahaya di ujung terowongan. Sedikit lagi, aku akan mendapatkan kembali otoritas atas ruang hidupku sendiri.
Sambil menunggu hari itu tiba, aku belajar satu hal penting:
Rumah bukan sekadar bangunan fisik yang luas, tapi tentang sebuah ruang di mana kita bisa menjadi diri sendiri seutuhnya tanpa perlu merasa “kecil”.
Bondowoso mungkin sedang mengujiku lewat ruang yang terbatas dan listrik yang sering “ngambek”, tapi aku tahu, rumah baru kami akan segera menyambutku dengan segala keleluasaan yang selama ini kurindukan.
Belajar Menghargai Proses

Homesick ini mengajarkanku satu hal: bahwa rumah bukan sekadar bangunan. Rumah adalah tempat di mana jiwaku punya ruang untuk bernapas lega dan menjadi diri sendiri seutuhnya.
Bondowoso punya pesonanya sendiri, tapi Jakarta dan “rumah putih”-ku adalah tempat di mana kreativitas dan kebebasanku berakar. Sambil menunggu rumah baru kami tegak berdiri, aku akan mencoba untuk lebih sabar. Menikmati setiap tantangan, menghargai setiap rintik hujan, dan mungkin… mencari cara kecil agar kamarku saat ini bisa jadi “studio” jurnal darurat.
Satu bulan sudah kulewati. Perjalanan ini mungkin masih panjang, tapi setiap rasa rindu ini adalah pengingat bahwa keleluasaan adalah kemewahan yang sangat berharga.
warm hugs,



