Menjalani Hari-Hariku Bersama Kebaikan Alami

bismillahirrahmanirrahim,

Angin malam kembali berhembus. Rasa dingin terasa menusuk sampai ke tulang-tulang. Tak peduli meski sudah menggunakan jaket tebal. Aku melihat ke arah bapak, pria separuh baya itu baru beberapa jam yang lalu berkata insya Allah akan kuat dengan dinginnya Ciwidey, tapi kini tampaknya sudah mulai menyerah.

Papaku dilain pihak, sudah dari begitu tiba di tempat ini terus mengeluhkan kedinginan. Bahkan di kepalanya ia rela ikut menggunakan topi berbentuk binatang milikku untuk menghangatkan telinganya. Aku melihat ke sekeliling, ibu, mama, mas metra, serta adik iparku pun kondisinya tak jauh beda. Semuanya tengah berjuang melawan rasa dingin yang terus bertambah.

Aku sebagai pengusul untuk berwisata ke tempat dingin ini, sedikit merasa bersalah melihat orang-orang yang aku sayangi kedinginan. Aku pun mengelurakan sachet minuman jahe yang memang sudah aku siapkan dari rumah, menyeduhnya, dan menghidangkannya.

Tak butuh waktu lama untuk minuman jahe itu mengahangatkan tubuh kami. Selang beberapa saat setelah satu persatu gelas berisi minuman jahe itu ditenggak habis, suasana hangat dari dalam tenda mewah di pinggir Situ Patenggan pun mulai terasa kembali hangat. Pecakapan demi percakapan terus berlangsung, melepas rindu dari pada penghuninya yang sudah lama tak bersua.

Rempah-Rempah, Kekayaan Alam Indonesia

Sebagai orang Indonesia, sejak kecil aku sudah familiar dengan jamu, atau minuman herbal yang dibuat dari rempah-rempah. Jahe, beras kencur, temulawak, kunyit asem adalah beberapa jenis rempah-rempah yang sudah dikenalkan mamaku sejak aku masih kecil lewat mbok jamu.

Saat beranjak remaja, aku kembali dikenalkan pada jenis jejamuan yang baru, pahitan. Bermula dari dropnya daya tahan tubuh aku, sebentar-sebentar aku merasa sakit, dan hasil pemeriksaan sementara tak ada yang mengetahui penyakit yang aku derita. Hanya obat demi obat yang harus aku minum.

Mungkin karena tak tega melihat harus terus aku minum obat, akhirnya mamaku membawa aku berobat alternatif. Di situlah aku berkenalan dengan aneka jamu yang rasanya pahit. Kapok? Tidak.

Karena perlahan daya tahan tubuh aku terus membaik, aku malah jadi ketagihan minum jamu. Aku merasakan betul bagaimana bahan-bahan alami itu memberikan dampak positif bagi tubuhku.

Indonesia memang kaya akan rempah-rempah, ada banyak jenis jamu asli Indonesia. Eksistensi jamu Indonesia ini sudah ada jauh sejak masyarakat memiliki kemampuan mengolah dan memanfaatkan rempah-rempah, harta karun miliki bumi pertiwi. Harta karun yang sukses membuat negeri ini dijajah selama 350 tahun.

Kebaikan Alami Bersama Herbadrink

Kebiasaan minum masih sering aku lakukan hingga saat ini. Selain menyadari bahwa jamu adalah warisan budaya, manfaat dari jamu bikin aku terus ketagihan. Sayangnya aku bukanlah orang yang telaten untuk membuat jamu.

Jangankan membuat jamu, memasak saja aku masih ala kadarnya. Harap maklum, aku adalah tipe orang yang kurang betah berlama-lama di dapur kecuali untuk duduk manis menemani orang yang tengah sibuk memasak. Dan pastinya aku lebih betah lagi jalan-jalan keluar kota.

Pilihan buat aku adalah jamu yang praktis dan siap saji, Herbadrink. Minuman herbal ini dikemas dalam bentuk sachet cocok banget buat selalu aku bawa-bawa ketika traveling.

Keunggulan dari Herbadrink ini bukan saja karenan praktisnya, tapi juga karena memiliki banyak sekalian varian, diantaranya adalah sari jahe, sari temulawak, dan lidah buaya yang rajin menemani keseharian aku sesuai kebutuhan. Seperti kisah menikmati sari jahe yang menghangatkan kami di Ciwidey.

Biasanya aku selalu mempersiapkan beberapa varian untuk dibawa. Karena memang enggak repot untuk dibawanya. Kemasan sachet gini ringan, dan kalau mau diminum tinggal seduh per orang. Kalau kebetulan lagi beda selera semakin terasa keuntungannya.

Kalau kalian suka minum jamu juga enggak? Cerita dong kisah kalian menikmati kebaikan alami.

 

dianravi

Dian Safitri, travel and lifestyle blogger muslimah yang berdomisili di Jakarta, Indonesia. Pecinta kopi dan makanan. IVF Surviver.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *