Baluran, Our Little Africa at Java Island

Bismillahirohmanirohim,

Welcome to Baluran. Papan dengan gambar rusa dan banteng jawa berlatar belakang gunung Baluran itu mengakhiri ketidak sabaranku dua jam terakhir. Akhirnya aku kembali ke tempat ini, bisikku dalam hati.

Tak perlu menunggu komando, begitu Mas Metra, memarkirkan kendaraan berwarna putih yang membawa kami dari Bondowoso menuju tempat ini, aku langsung turun menuju tempat penjualan tiket masuk. Rp 55.000 adalah total nominal yang harus aku keluarkan untuk 3 orang berserta kendaraan memasuki wilayah Taman Nasional Baluran. Harga yang masih wajar menurut aku. Mengingat petualangan yang akan aku dapatkan setelah masuk lebih ke dalam taman nasional ini nanti.

Setelah transaksi pembelian tiket selesai dilakukan, aku pun langsung kembali ke dalam mobil. Tak ingin aku berlama-lama di pos depan. Hatiku sudah tak sabar untuk bisa menikmati pesona taman nasional yang memiliki luas 25.000 hektar.

Kupandangi langit yang didominasi warna putih dengan perasaan sedikit kecewa. Sedari pagi dalam perjalanan sampai tiba di Desa Wonorejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Banyuwangi ini aku terus melantunkan doa agar tidak hujan. Aku tahu seharusnya aku memang bersyukur, air tidak jatuh membasahi bumi ketika aku tiba. Tapi sebagaimana sifat manusia yang cenderung merasa tidak puas, selain tidak hujan aku mengharapkan langit berwarna biru.

12 km adalah jarak yang harus kami lalui berikutnya menuju Savana Bekol, menyusuri hutan. 12 km adalah jarak tempuh yang sebentar bila ditempuh dengan kendaraan di jalanan yang mulus. Tapi ketika kita memasuki Taman Nasional Baluran, perjalanan ini terasa tidak berujung akibat kondisi jalanan yang penuh kerikil.

Awalnya aku, Mas Metra, serta Tika menikmati berada di dalam hutan. Ada dua jenis hutan yang kami lewati sebelum tiba di padang savana, hutan musim serta hutan evergreen. Jika kita tiba di musim kemarau, seharusnya akan terasa sekali perbedaan kedua jenis hutan itu. Sesuai namanya, hutan musim akan mengikuti perubahan musim yang ada, yaitu daun-daun akan berubah warna kuning kecoklatan bila kemarau tiba. Sementara hutan evergreen akan terus berwarna hijau sepanjang tahun.

Bulan Februari adalah musim penghujan. Sepanjang memasuki kawasan hutan warna hijaulah yang aku lihat. Sejuk. Apalagi ditambah semilir angin yang bertiup cukup kencang. Berada di tempat ini sudah tentu baik untuk jiwa, mengingat aktivitas sehari-hariku berada di hutan beton ibukota.

Ini adalah kunjungan kedua kalinya aku ke Taman Nasional Baluran. Beberapa tahun sebelumnya aku pernah menghibur diriku di tempat ini. Mengobati sakit hati paska gagalnya program bayi tabung yang aku alami. Kali ini aku kembali minta mengunjungi tempat ini karena memang masih merasa belum puas. Waktu itu kami terlalu diburu-buru waktu.

Sebuah pohon tiba-tiba tumbang. Rantingnya menutupi sebagian tapak jalan yang memang tak lebar. Kendaraan kami terpaksa berhenti. Aku hanya bersyukur kami tak sedang di bawah pohon yang tumbang tersebut kala ia terjatuh ke tanah. Mau tak mau Mas Metra pun keluar dari mobil dan menyingkirkan ranting-ranting besar agar mobil bisa melintasi jalanan tersebut.

Savana Bekol, Little Africa in Java

Lega. Itulah perasaan yang aku rasakan  ketika akhirnya kami keluar dari hutan dan di sambut oleh padang rumput yang luas. Savana Bekol. Inilah yang menjadi daya tarik utama dari Taman Nasional Baluran. Padang rumput seluas kurang lebih sekitar 300 hekar dengan latar belakang Gunung Baluran. Little Africa. Begitu julukan yang diberikan  untuk tempat ini.

Tak salah memang bila tempat ini mendapat julukan Afrika Kecil. Karena bila sedang beruntung kita bisa melihat langsung hewan-hewan yang melintasi padang rumput ini. Tepat ketika aku turun dari mobil dan menuju padang rumput, aku melihat seekor rusa yang tengah berlari melintasi padang rumput. Sayang aku telat mengabadikan momen tersebut. Baik kamera dan telepon genggam masih berada di dalam ransel. Tapi tak apa, sebagai gantinya ada banyak monyet yang menyambut kedatangan aku dan bersedia di foto.

Harap berhati-hati ketika memasuki area padang rumput. Peringatan itu terpampang di beberapa titik. Khawatir ada ular. Tapi tetap saja aku berusaha memasuki area padang rumput. Tak terlalu jauh dari jalanan. Aku hanya ingin berfoto dengan latar pohon yang menurut aku instragamable. 

Selain padang rumput, di Bekol ini juga terdapat penginapan juga menara pandang. Tapi kali ini aku memilih melanjutkan perjalanan langsung ke Pantai Bama. Perjalanan hanya sekitar 3 km. Tentu saja tanpa rasa bosan kali ini.Karena pemandangan sekitarnya adalah padang rumput.

Benar saja, beberapa kali kami berhenti dalam perjalanan. Bukan karena pohon tumbang lagi. Melainkan karena pemandangan yang minta difoto serta kawanan rusa yang tengah merumput.

Pesona Pantai Bama

Ini dia pesona lain dari Taman Nasional Baluran. Pantai Bama. Tak jarang orang-orang mengenal Taman Nasional Baluran hanya sebatas padang savananya saja. Padahal taman nasional ini juga memiliki pantai. Ada dua pantai yang aku tahu terdapat di wilayah Baluran ini, Pantai Bama dan Pantai Bilik Sijile. Tapi setahu aku yang paling ramai dikunjungi adalah Bama.

Musola, kantin, serta penginapan terdapat di Bama. Musola menjadi tempat pertama yang aku singgahi, mengingat sudah azan zuhur sudah berkumbadang dari sebelum kami tiba di Bekol. Aku dan Tika bersusah payah membuka pinti musola. Kok semua terkunci,pikir kami. Gimana bisa sholat ini?

“Didorong kencang, Bu. Itu memang dibikin rapat biar monyet-monyetnya enggak masuk,” tiba-tiba seorang pria berteriak ke arah aku memberi tahu cara membuka pintu musola.

Usai shalat aku menawarkan pilihan mau jalan-jalan apa makan dulu. Mas Metra dan Tika kompak memilih jalan-jalan saja. Urusan perut biar diganjel dengan pisang rebus yang kami bawa dari rumah ibu. Tapi kami lupa pada monyet di sekitar kami. Rupanya mereka sudah memperhatikan kami. Sehingga begitu melihat pisang rebus, langsung berusaha merebut.

Aktivitas yang bisa dilakukan di pantai Bama ini cukup beragam. Berenang, snorkling, dan menyewa perahu bisa dilakukan di sini. Tak jauh dari pantai Bama juga terdapat hutan manggrove untuk dijelajahi. Tapi sepertinya kedua rekan traveling aku sepertinya sudah mulai lelah. Jadi aku hanya jalan-jalan menikmati suasana saja. Sebelum mengucapkan selamat tinggal pada pantai Bama, aku singgah di kantin dan mengisi perut dengan seporsi mie rebus.

Hari hampir sore ketika aku mengarah kembali ke luar dari Taman Nasional Baluran. Beberapa kali aku sempat melihat merak, lutung, dan aneka macam burung. Katanya selain pagi,  sore hari memang waktu yang tepat untuk mengunjungi Taman Nasional Baluran. Ini adalah waktu dimana para satwa-satwa liar itu berpindah tempat melintasi  padang savana.

Sebelum kendaraan berbelok arah memasuki hutan, aku menangkap banyak sekali monyet-monyet yang berjemur di padang rumput. Seolah ingin mengucapkan salam perpisahan kepada kami. Sampai jumpa, teriakku pada mereka.

Aku tahu, belum tentu aku akan bisa kembali lagi ke tempat yang cantik ini. Indonesia masih menyimpan banyak tempat wisata lainnya yang memanggil untuk aku jelajahi.

Bagaimana dengan kisah petualangan kalian? Sudah pernah berkunjung ke Baluran? Jangan lupa berbagi ceritamu di kolom komentar ya.

Sampai jumpa di petualang berikutnya!

assalamu alaikum,

dian raviDianRavi

dianravi

Dian Safitri, travel and lifestyle blogger muslimah yang berdomisili di Jakarta, Indonesia. Pecinta kopi dan makanan. IVF Surviver.

9 Comments

  1. Aku semenjak lihat baluran sbg latar setting film, langsung jatuh Cinta pada baluran. Bagus banget padang savananya semoga aku bisa segera berkunjung kesini

      • Bener mbak dian, jadi bangga nih, aku kan orang Situbondo. Btw, aku cuma sekali pernah kesini, waktu study tour SMP, savana nya emang kece abis, mirip sama latar affrika, dan sepertinya temen-temenku pada ngeluh semua, kan naek truk, yah begitulah jalannya

  2. MEmang cocok disebut little africa ya mba, padang rumput nya mirip sama yang di africa. Tapi semoga aja ga ada ular serem aku ga berani ke hutan hehehe.. btw itu ada foto yang di saung, banyak kepala kepala sapi kah mba?

  3. Ah baluran nya pas lagi hijau hijaunya kak, jadi adem ngeliatnya. Aku kesana kemarin agak gersang dan pas cuaca lagi terik. Jadi kurang bisa menikmati

  4. Pertama aku ke Baluran, ada satu pertanyaan Background gunung tersebut.
    Katanya nama Gunung itu Gunung Baluran..

    Entah kenapa yang terkenal justru taman Nasional nya bukan gunung nya.

    Trs saya mencari artikel yang mengulas gunung Baluran (bukan taman Nasional Baluran) btw gunung itu bisa di daki ga yah..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *