Finance

4 Tips Jadi Nasabah Bijak Agar Terhindar dari Kejahatan Siber

bismillahirrahmanirrahim,

Untuk kesekian kalinya handphone aku berdering siang ini. Lagi-lagi nomor tak dikenal. Otomatis  aku langsung mereject sambungan telepon itu. Kalau memang penting orang itu bisa mengenalkan diri terlebih dahulu melalui pesan teks, begitu pikirku.

Maraknya kejahatan siber yang terjadi belakangan ini, bikin aku ekstra hati-hati. Dulu, aku akan dengan mudah menerima telepon dari nomor tak dikenal. Apalagi kalau malam hari, meski sudah tidur, aku akan langsung menerima telepon masuk. Khawatir ada berita penting dari keluarga. Beberapa kali yang terjadi adalah telepon yang bermaksud menipu dengan cara hipnotis. Teman-teman pasti sudah hafal deh dengan narasi “Mama minta pulsa.”

Makin hari bentuk kejahatan siber terus berkembang. Sepertinya pelaku kejahatan terus memutar otak memikirkan cara baru gimana caranya bisa menipu. Salah satunya yang paling sering adalah sms (ada juga via telepon) menang undian. Dan yang baru-baru ini mulai marak adalah pesan teks yang mengatakan kalau biaya administrasi berubah. Kedua penipuan itu berbeda narasi, tapi keduanya bertujuan sama, sama-sama mengarahkan agar kita mengklik link tertentu. Ini yang bahaya. 

3 Jenis Kejahatan Digital Perbankan:

Bentuk kejahatan siber bisa menyasar siapa aja. Umumnya yang menjadi korban adalah orang-orang yang belum aware tentang bentuk kejahatan siber ini. Melalui tulisan ini, aku ingin mengajak teman-teman untuk mengenal beberapa bentuk kejahatan siber terutama di bidang perbankan, biar lebih waspada.

1. Card Skimming 

Pernah dengan istilah ini? Card skimming merupakan tindakan pencurian data kartu ATM/debit dengan cara menyalin informasi yang terdapat pada strip magnetis secara ilegal. Biasanya pelaku juga akan berusaha mendapatkan PIN kartu ATM/debit dengan mengintip tombol yang kamu kamu bertransaksi di mesin ATM/alat EDC. Makanya kamu perlu berhati-hati setiap kali melalukan transaksi.

2. Phising 

Ini salah satu kejahatan siber yang lagi marak beredar. Umumnya pelaku meminta pengguna komputer untuk mengungkapkan informasi rahasia dengan cara mengirimkan pesan penting palsu, dapat berupa email, website, atau komunikasi elektronik lainnya. 

3.Carding 

Jenis kejahatan siber ketiga adalah carding, dimana terjadi aktivitas belanja secara online dengan menggunakan data kartu debit atau kredit yang diperoleh secara ilegal. 

Nah itu beberapa jenis kejahatan digital perbankan yang sebaiknya teman-teman aware. Jujur ngeri sih setiap kali baca tentang korban kejahatan siber. Bisa sampai habis-habisan dikeruk saldo rekeningnya. Langsung merinding sambil bilang TBL,TBL, TBL! Takut banget lho…..

Tapi terus apa yang harus kita lakukan agar terhindar dari kejahatan siber? Mengingat rata-rata kejahatan siber itu terjadi karena teknologi yang semakin canggih, masa iya harus kembali ke masa lalu saat teknologi belum secanggih sekarang? Biar bagaimanapun, ada banyak keuntungan yang aku dapatkan dengan menggunakan internet banking. Rasanya gak rela juga kalau harus kehilangan internet banking. Pasti kamu juga merasa sama seperti yang aku rasa.

Tips Menjadi Nasabah Bijak

Salah satu cara agar terhindar dari kejahatan siber adalah dengan menjadi Nasabah Bijak. Berikut ini beberapa tips menjadi Nasabah Bijak biar terhindar dari kejahatan siber, terutama dalam perbankan.

1. Jangan Membagikan Data Pribadi  

Jaga kerahasiaan data pribadi. Jangan pernah bagikan data pribadi seperti PIN, CVV, nomor kartu, masa berlaku dan sebagainya kepada siapapun. Selain ini sebaiknya kamu membuat PIN yang merupakan bukan nomor yang mudah ditebak, seperti tanggal lahir ataupun nomor depan/belakang telepon. Sebagai Nasabah Bijak, sebaiknya kamu juga selalu memperbarui PIN secara berkala. 

2. Selalu Waspada saat Melakukan Transaksi Digital 

Gak ada salahnya untuk selalu waspada, terutama saat sedang melakukan transaksi di mesin ATM, mesin EDC, ataupun e-commerce. Pastikan jangan sampai ada yang melihat kamu sedang menekan tombol ketika memasukkan kode PIN pada mesin ATM atau mesin EDC. Biasanya usai bertransaksi di mesin ATM, aku akan sengaja memasukkan kartu ATM satu kali lagi dengan nomor PIN yang salah. 

3. Tingkatkan pengamanan kartu

Pengamanan kartu bisa dilakukan dengan menggunakan kode One Time Password (OTP) yang dikirim melalui SMS kepada nasabah pemegang kartu setiap kali melakukan persetujuan transaksi keuangan. 

4. Adukan transaksi yang mencurigakan 

Jika ada notifikasi atau pesan transaksi mencurigakan melalui SMS atau email dari pihak yang mencurigakan, jangan panik dan langsung memproses dengan membuka tautan yang dikirimkan atau membalas dengan informasi kartu. Hubungi call center bank mengenai hal tersebut, pastikan kebenaran informasi itu.

Nah itu beberapa tips yang sebaiknya teman-teman terapkan biar menjadi Nasabah Bijak. Biar aman dan terhindar dari kejahatan siber. Kelihatannya mudah ya. Tapi mungkin buat sebagian orang berurusan dengan layanan digital yang ditawarkan bank itu menimbulkan rasa gak nyaman. Seperti mamaku, meski gak gaptek-gaptek amat, tapi setiap kali mau melakukan transaksi digital suka minta ditemani. Takut salah katanya. Kebayang gak sih gimana orang-orang yang belum terbiasa dengan teknologi, pasti takut-takut menggunakan layanan digital yang ditawarkan perbankan. Untungnya BRI cukup sigap menghadapi masalah ini, dengan menghadirkan penyuluh digital.

BRI Optimalkan Penyuluh Digital

Saat ini BRI tengah mengoptimalkan layanan digital melalui penyuluh digital. Kalau menurut aku penyuluh digital ini cukup penting adanya, mengingat gak sedikit nasabah yang masih gaptek. Nantinya peran penyuluh digital ini akan digencarkan agar nasabah mendapatkan pendampingan saat mengakses layanan digital.

Ada banyak layanan digital yang telah disiapkan BRI, di antaranya digital banking BRImo, aplikasi pengajuan fasilitas dan layanan kredit BRISPOT, laku pandai Agen BRILink, hingga aplikasi BRIAPI yang memungkinkan terintegrasi dengan aplikasi pihak ketiga. Tujuan dari layanan digital ini salah satunya untuk efisiensi proses bisnis yang juga dapat menekan operational cost dan operational risk. Namun kelengkapan layanan digital BRI perlu diimbangi dengan kesiapan masyarakat atau nasabah yang lebih melek digital khususnya pada layanan perbankan. Masyarakat juga harus dilakukan edukasi digitalisasi layanan perbankan dan menjadi Nasabah Bijak

Berkat adanya penyuluh digital dari BRI, masyarakat akan bisa didampingi saat mengakses berbagai layanan digital. Gak perlu takut gaptek. Tapi tentunya tetap harus waspada agar menjadi Nasabah Bijak. Ketika mendapat pesan mencurigakan terkait rekening kamu, jangan ragu untuk segera melaporkannya ke call center BRI atau bisa juga melalui sosial media. Tapi ingat, pastikan akun sosial media BRI  itu asli ya. Karena sekarang ini gak sedikit akun-akun palsu.

Waspada selalu ya, teman-teman.

Leave a Reply

Your email address will not be published.