Tak terasa, kalender sudah menunjukkan tanggal 28 Februari. Rasanya baru kemarin kita merayakan pergantian tahun, tapi sekarang kita sudah berada di penghujung bulan kedua di tahun 2026. Bagi sebagian orang, ini mungkin sekadar pergantian bulan biasa, tapi bagiku, ini adalah penanda penting dalam perjalananku mendisiplinkan diri lewat tantangan One Day One Post. Sebuah perjalanan yang penuh dinamika, tawa, dan tentu saja, sedikit drama “kejar tayang” setiap harinya.
Jujur saja, dengan hati yang lapang dan tanpa pembelaan diri yang berlebihan, aku harus mengakui kalau bulan ini aku “bolong” tiga hari. Ya, target menulis organikku memang tidak sepenuhnya tercapai 100%. Meskipun sebenarnya, di salah satu hari itu aku tetap mengunggah postingan terkait pekerjaan profesional. Salah satunya adalah artikel berjudul “7 Menu Sahur Praktis Pakai Rice Cooker“. Apakah kalian sudah sempat membacanya? Kalau belum, coba intip deh, lumayan banget sebagai inspirasi persiapan menyambut bulan Ramadan yang sebentar lagi tiba! Kegagalan kecil di sisa dua hari lainnya tidak membuatku berkecil hati, karena bagiku, proses jauh lebih berharga daripada sekadar angka di atas kertas.
Berhenti Merasa Gagal
Apakah aku merasa gagal karena tidak bisa genap menulis 28 artikel organik dalam sebulan? Jawabannya: Tentu saja tidak. Justru, aku merasa ini adalah pencapaian luar biasa yang patut dirayakan. Kegagalan mencapai angka sempurna bukan berarti aku berhenti melangkah, bukan?
Aku sangat bangga pada diriku sendiri karena berhasil menjaga konsistensi di tengah segala keterbatasan. Bayangkan, bukan cuma 25 artikel yang berhasil tayang di blog pribadi, tapi sejak tanggal 18 Februari kemarin, aku juga memberanikan diri untuk ikut serta dalam challenge menulis setiap hari di Kompasiana. Ya, aku sedang mencoba menantang diri sendiri untuk tetap produktif di platform tersebut, dan sejauh ini aku masih bertahan!Dan yang paling membuatku takjub pada diri sendiri adalah fakta bahwa: semuanya aku tulis hanya bermodalkan handphone! Dulu, aku selalu punya sejuta alasan untuk menunda tulisan dengan dalih, “Duh, susah banget nulis panjang lewat HP. Jempol pegal, nggak bisa fokus, pokoknya nggak bisa aku tuh.” Ternyata, selama ini batasan itu cuma ada di kepala. Begitu niat sudah bulat dan jari-jari ini mulai menari di atas layar sentuh, ternyata semuanya bisa dijalani. Menulis di sela-sela kesibukan lewat ponsel justru memberiku fleksibilitas yang tidak kudapatkan dari laptop.
Oleh karena itu, doakan aku ya! Semoga konsistensi ini membuahkan hasil manis di challenge Kompasiana tersebut. Siapa tahu, salah satu hadiah menariknya bisa mampir ke pelukanku sebagai apresiasi atas perjuangan jempol ini selama Februari. Tapi menang atau tidak, bisa mengalahkan ego dan rasa malas sendiri sudah menjadi “hadiah” terbesar bagiku bulan ini.
Menulis di Tengah Hiruk-Pikuk
Sebenarnya dari awal Februari, aku sudah merasa agak uring-uringan. Aku gagal membuat plan bulanan, yang artinya aku harus memutar otak mencari ide setiap hari. Tidak ada stok tulisan sama sekali seperti bulan lalu.
Tapi, mungkin inilah buah dari mindfulness yang sedang aku pelajari. Aku mencoba berbisik pada diri sendiri:
”Nggak apa-apa, jalani saja semampunya. Pasti ada jalan. Kalau memang hari ini nggak sempat posting, ya sudah. Besok lagi.”
Semangat ini juga makin terbakar berkat dukungan teman-teman. Terima kasih buat Radian (atau yang biasa kupanggil Mamad) yang komen di artikel akhir Januarku, itu motivasi besar buatku! Juga buat teman-teman di Pojok Warung Blogger, kalian masih selalu sebaik itu, aku nggak menyangka responnya bakal sepositif ini.
Menatap Maret: Tanpa Rencana, Tapi Tetap Melangkah
Lalu, bagaimana dengan Maret? Jika ditanya soal strategi, sepertinya polanya masih akan sama dengan Februari. Aku akan terus mencoba menulis meski tanpa content plan yang kaku atau jadwal yang tersusun rapi di atas kertas. Jujur saja, menulis tanpa rencana itu sangat menantang karena setiap pagi aku harus selalu bertanya pada diri sendiri: “Ide apa lagi ya hari ini?” Namun, di situlah letak seninya; membiarkan jempolku menari mengikuti apa yang sedang dirasakan hati saat itu juga.
Mungkin kondisi “menulis spontan” ini akan terus bertahan sampai aku benar-benar punya ruang kerja yang nyaman, entah itu setelah pindah rumah nanti atau saat waktunya pulang ke Jakarta tiba. Tapi untuk sekarang? Aku sangat menikmati momen ini. Menulis sambil rebahan di kamar, atau sesekali sambil duduk manis di tengah riuhnya keluarga yang sedang berkumpul. Selama baterai handphone masih terisi dan ada celah waktu untuk membuka Google Docs, aku akan terus mencoba menabung tulisan.
Menariknya, Maret ini aku merasa siap menyambut babak baru yang penuh kejutan. Ada harapan besar bahwa rumah yang kunanti-nantikan kemungkinan akan segera siap huni. Selain itu, ada aktivitas seru yang sama sekali tidak aku sangka sebelumnya selama di Bondowoso ini: aku diajak ngonten! Siapa sangka, kota yang tenang ini justru memberiku panggung baru untuk berkreasi secara visual. Belum lagi suasana syahdu menyambut bulan suci Ramadan yang puncaknya adalah Lebaran di akhir Maret nanti. Rasanya, Maret akan menjadi bulan yang sangat sibuk namun penuh warna.
Nah, biar perjalanan menulisku di bulan Maret nanti makin seru dan nggak “mentok” ide, aku butuh bantuan kalian! Kira-kira, kalian punya ide nggak buat bahan tulisanku nanti? Kasih saran di kolom komentar ya! Apa saja boleh, mulai dari tips receh seputar kehidupan di Bondowoso, curhatan mendalam soal mindfulness, atau mungkin kalian mau aku cerita lebih banyak soal proses “ngonten” yang baru aku jalani ini? Ditunggu ya masukannya!
warm hugs,



