Lifestyle Personal Life Review

Review Aplikasi Riliv, Atasi Kecemasan dengan Metode Mindfulness

bismillahirrahmanirrahim,

Dua bulan sudah aku kembali susah tidur. Ternyata pandemi ini memberikan dampak pada kesehatan mentalku juga. Berita duka yang terus berdatangan, ditambah kedua sahabatku yang berjuang melawan covid-19 ini, membuat aku terus menerus dilanda rasa cemas.

I need help. Tapi aku masih bingung untuk kemana aku harus mencari pertolongan. Menceritakan pegalaman ini ke teman dan keluarga, hanya akan berakhir dengan “Enggak usah dipikirin kaya gitu. Dibawa santai aja.”

Masalah kesehatan mental tuh bukan hal yang bisa disepelein. Aku tahu banget, karena beberapa tahun yang lalu, aku pernah merasakan depresi yang cukup berat. Bertahun-tahun aku mengalami insomnia sampai harus minum obat untuk bisa tidur.

Makanya ketika sekarang insominia aku kambuh, jujur aku merasa agak panik. Bagaimana kalau aku sampai depresi lagi. Apa yang harusnya aku lakukan? Kemana aku bisa mencari bantuan?

Menulis Jurnal Melegakan Perasaan

Biasanya aku selalu rutin menuliskan segala perasaan di dalam jurnal. Selain membantu untuk melepaskan kegelisahan, menulis di jurnal juga membantu untuk lebih mengenal diri sendiri.

Kadang isi kepala aku terlalu penuh dengan ini itu, sampai aku sendiri enggak tahu, sebenarnya apa sih persinya yang aku inginkan, apa yang aku butuhkan. Nah dengan membiasakan curhat di jurnal, aku lebih bebas mengeluarkan semua keruwetan isi kepala, dan pelan-pelan aku jadi bisa memahami sebenarnya apa yang aku inginkan dan langkah-langkah apa yang harus aku lakukan.

Masalahnya, dua bulan terakhir ini aku enggak punya tenaga untuk menulis di jurnal. Setiap sudah menyiapkan jurnal dan pulpen, badan aku rasanya capek banget. Jangankan untuk curhat, sekadar untuk membuat to do list aja aku enggak sanggup.

Iya, sampai seperti itu kondisi aku belakangan ini. Hari-hari dipenuhi kegelisahan dan kecemasan, termasuk rasa cemas terhadap diri sendiri karena kok sampai seperti ini ya. Aku butuh cara lain untuk menenangkan diri, melepaskan kegelisahan yang menhantui.

Belajar Mindfulness Melalui Aplikasi Riliv

Akhir-akhir ini aku sering mendengar kata “mindfulness”. Karena penasaran aku pun mencari tahu apa sih arti kata itu. Rupanya mindfulness itu merupakan salah satu jenis meditasi yang dapat melatih  untuk fokus terhadap keadaan sekitar juga emosi yang dirasakan serta menerimanya secara terbuka. Meditasi mindfulness  ini bukan hanya  bermafaat sebatas kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental. Sepertinya menarik dan ini yang salah satu yang kubutuhkan.

Ada beberapa manfaat yang katanya bisa didapatkan dari meditasi mindfulness, seperti:

  1. Menikmati hidup
  2. Mencintai diri sendiri
  3. Melatih pikiran dan fokus
  4. Mengurangi stress
  5. Meningkatkan kesehatan

Seorang teman bloger merekomendasikan untuk mencoba aplikasi Riliv untuk melatih mindfulness. Baca beberapa review aplikasi Riliv sepertinya aku mulai tertarik juga. Bismillah, jadilah beberapa hari terakhir aku mencoba aplikasi Riliv, semoga bisa menjadi salah satu ikhtiar aku untuk menjaga kesehatan mentalku.

“Tarik nafas yang dalam, lalu hembuskan….” Kalimat itu mengawali setiap aplikasi Riliv dibuka. Reflek aku pun jadi menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan setiap membuka aplikasi ini.

Ada beberapa menu pilihan dalam aplikasi Riliv yang bisa kita pilih, seperti Mindful, Konseling, Journal, dan Journey. Karena aku mau mencoba untuk fokus kali ini, aku baru mencoba menu Mindful dan Journal.

Di bagian Mindful, ada pilihan-pilihan meditasi yang bisa kita pilih. Rata-rata satu meditasi berkisar 7-9 menit. Enggak terlalu lama. Aku mengatur alarm sekitar sore hari untuk meditasi. Jujur, aku masih kalap memilih meditasi apa yang sebaiknya aku mulai duluan. Rasanya ada banyak yang ingin aku pilih, tapi di sisi lain, aku tahu, kalau kebanyakan yang ada nanti malah khawatir bikin pikiran aku semakin semrawut. Jadilah aku memilih sesi “Can’t Stop Your Mind?” dan “Stress Bukan Segalanya”.

Sebenarnya ini bukan latihan meditasi pertama aku. Cuma karena sudah lama aku enggak melakukan meditasi, rasanya jadi agak aneh dan harus membiasakan diri untuk bisa fokus.  Tapi setelah dua-tiga kali, rasanya aku mulai terbiasa dan perasaan pun jadi lebih tenang.

Satu tema meditasi ini berisi 10 sesi. Aku membatasi diri satu sesi, satu hari saja di sore hari. Biasanya aku mendengarkannya menggunakan earphone, biar terdengar lebih jelas.  Aku belajar untuk mengatur nafas dan memilah suara-suara apa saja  yang ingin aku dengar. Ini membantu banget agar aku bisa memilah isi pikiran aku yang kelewat semrawut.

Aku juga mencoba Riliv Journal. Ada beberapa pilihan sub journal yang tinggal kita isi. Aku baru mencoba “Mengenali Diriku Hari Ini” saja sih. Total ada sekitar 4 pertanyaan untuk lebih mengenal diri kita sendiri.

Sebenarnya aku tertarik untuk mencoba Konseling.  Di sini kita bisa memilih untuk konseling dengan Psikolog atau Konselor. Ada topik-topik konseling yang ingin didiskusikan. Karena aku masih bingung dengan masalah utama diriku ini, entah itu keluarga atau pekerjaan, jadinya aku memilih untuk menunda dulu. Mungkin saat nanti aku tahu akar permasalahan aku dimana, aku akan mencoba untuk konseling ke psikolog ini.

Beberapa fitur di aplikasi Riliv ini bisa diakses secara gratis. Tapi ada juga yang upgrade premium. Kalau masih ragu, kalian bisa mencoba 7 hari gratis akses semua konten meditasi di RILIV dengan memasukkan kode voucer kIL4oo di bagian Reward. Lumayan banget lho ini tuh.

Kurang lebih ini sih pengalaman aku menggunakan aplikasi Riliv. Karena belum ada satu minggu aku menggunakannya. Memang butuh waktu dan proses untuk meyehatkan kesehatan mental. Bismillah, tapi aku yakin aku bisa melewati segala kecemasan ini kok. Gimana dengan kesehatan mental kalian? Jangan sampai diabaikan ya. Coba deh gunakan juga aplikasi Riliv ini. Mood kalian pun bisa tercatat harian, untuk lebih mengenal diri kalian.

10 thoughts on “Review Aplikasi Riliv, Atasi Kecemasan dengan Metode Mindfulness”

  1. Mbak, aku juga sedang mengalami hal yang sama. Hal-hal seperti ini biasanya hanya dimengerti oleh orang yang juga pernah mengalaminya atau mereka yang memang bergelut di bidang kesehatan mental. Aku belum pernah lagi mencoba meditasi, dulu pernah gagal terus karena aku nggak bisa fokus. Mungkin aku mau coba lagi meditasi ini.

  2. Wah, menarik sekali! Pandemi gini selain membuat aktivitas jadi terbatas, juga bisa bikin pikiran panas
    Kalau ngga pandai mengendalikan diri, mengendalikan emosi, salah-salah bisa bikin masalah memang
    Pandemi seakan menuntut diri untuk tetap “waras” dalam berbagai kondisi. Next mau coba intip aplikasi ini, ah~

  3. Aplikasi yang pas nih di saat ini mba, riliv bikin makin mengenal diri sendiri dan menyembuhkan diri ini ya, aku juga beberapa tahun sejak pandemi kesehatan mental diuji banget, dari nggak bisa ke mana-mana dan mertua dua gak bisa apa-apa, emosi jiwa raga, belum rumah, belum kerjaan online berasa fisik dan pikiran terkuras habis. Pengen download ah

  4. Mengapa aku baru tahu aplikasi ini -_-
    Padahal sempat dan sering mental tiba2 down karena suatu hal tertentu
    Aku udah cek aplikasinya, teh
    Aku tertarik untuk mencobanya juga. Aku jarang bermeditasi juga sih. Smoga aja memberikan feedback baik utk mental aku

  5. Cobain juga aah…aplikasi Riliv.
    Aku sesungguhnya akhir-akhir ini sedang sering mengalami up and down mood, teh.. Mungkin dipengaruhi dengan banyak hal ((semacam kepikiran gitu..)) tapi sayangnya aku selalu denial.
    Jadi melalui Riliv apps, aku berharap bisa menjadi lebih baik.

  6. Mbak ini free atau berbayar? Mau cari download juga ah
    Aku juga belakangan nulis kaku sekali, trus tulisanku jelek sekali gk kyk tulisan org2 huhu
    Ada rasa malas juga nulis pdhl aku selalu dorong anakku nulis tangan, ibuk macam apa aku ini huhu
    Mungkin krn udah ngrasa waktu cuma dikit jd utk otak atik jurnal, nulis, tepel2 agak butuh waktu ya, kalau apps gini kyknya mayan bantu
    Lg butuh juga buat pelampiasan cerita2 gtu yg gk bisa diceritain ke org
    TFS

  7. Riliv bisa membantu kita melihat kesehatan mental. Atau yang merasa sehat mental bisa sekadar mengetahui cara release the pain yang kadang muncul. Namanya hidup ya.
    Nah, asyiknya yang sudah tahu dirinya punya masalah bisa terapi dan konseling dari rumah. Kan asyik banget

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *