It Takes Two To Tango, Butuh Komitmen Bersama Menjalani Program Hamil

Bismillahirohmanirohim,

Paige tampak gelisah. Sedari tadi ia hanya mondar-mandir seperti orang linglung. Divia memperhatikan hal itu, tapi beberapa kali ia bertanya apa yang tengah mengganggu pikirannya, Paige hanya menjawab “Tidak ada apa-apa.”

Divia tahu Paige dan Evan sedang memiliki masalah. Sudah satu tahun  mereka berusaha untuk hamil tapi masih belum berhasil juga. Bahkan terakhir mereka sempat berencana untuk adopsi, tapi akhirnya ibu bayi tersebut membatalkan niatannya untuk menyerahkan bayinya untuk diadopsi. Divia ingin membantu Paige dan Evan, tapi kalau Paige belum mau menceritakan apa yang tengah ia resahkan, ia pun tak bisa memaksa.

Tapi lama-lama Divia mulai kesal juga melihat Paige yang mondar-mandir di sekitarnya. Mengganggu konsentrasinya. “Paige, duduk. Kalau pun kamu belum mau menceritakan masalahmu, at least just sit down,” perintahnya.

Bagai anak itik menuruti perintah induknya, Paige pun langsung menduduki sofa, persis di sebelah Divia. Tanpa menunggu waktu lama, Paige pun mulai menceritakan ada yang tengah mengganggu pikirannya. “Divia, apa yang kamu tahu soal IVF?”

“In Vitro Fertilization (bayi tabung)? Apa kamu berencana melakukan hal itu?”

“Aku mulai mempertimbangkannya. Maksudku, aku sudah lelah mencoba hamil alami. Apalagi untuk kasus masalah kami, IVF ini jalan terbaik. Tapi aku baca-baca di internet kaum lelaki umumnya enggan melakukan ini. Bagaimana mungkin aku membahas soal ini sama Evan? Bagaimana kalau aku ternyata menyinggung harga dirinya?”

Divia tersenyum, ada perasaan lega akhirnya Paige mau menceritakan masalahnya. Dan sepertinya ia tahu cara membantunya. “Hmm bagaimana kalau nanti malam kalian makan malam di rumahku. Kamu tahu tidak, anak Raj dari pernikahan sebelumnya, si kembar, adalah hasil dari IVF. Raj tidak pernah malu membicarakan soal IVF-nya, malah ia bangga. Mungkin nanti Raj bisa membicarakan hal ini dengan Evan.”

***

Paige berusaha menebak-nebak apa yang ada dalam pikiran Evan. Makan malam tadi berjalan sesuai dengan yang ia rencanakan bersama Divia. Raj menggiring percakapan ke arah bayi tabung. Tapi Evan sama sekali tidak mengemukakan pendapatnya sama sekali. Sekarang, Paige bingung, bagaimana cara mengatakan pada Evan bahwa ia ingin mencoba IVF, ia siap menghadapi IVF.

“Emm… Evan…” ada keraguan ketika Paige memanggil suaminya ini.

“Paige, ada yang ingin aku utarakan,” Evan memotong kata-kata Paige. “Bagaimana kalau kita mencoba IVF?”

Paige tercengang. Ia belum sempat mengutarakan isi hatinya, tapi Evan justru seolah membaca pikirannya.

“Kalau kamu mau tentunya?” lanjut Evan buru-buru.

“Aku mau! Aku berusaha untuk mengutarakan maksud yang sama. Tapi aku takut kalau aku melukai harga diri kamu.”

“Aku? Aku justru sudah berbulan-bulan mempelajari soal IVF. Tapi aku takut karena aku tahu perjuangan kamu untuk IVF ini akan berat sekali.”

***

Kisah Paige dan Evan tadi adalah bagian dari serial Royal Pains season 8 yang aku tonton sekitar satu atau dua bulan yang lalu. Percayalah, aku meneteskan air mata setiap kali melihat bagaimana Paige dan Evan menjalani persiapan bayi tabung itu. Bukan, aku meneteskan air mata bukan karena sedih mengingat Paige dan Evan belum dikaruniai anak seperti aku, tapi aku justru meneteskan air mata terharu melihat bagaimana Evan begitu memikirkan perasaan Paige untuk melanjutkan program hamil mereka.

It takes two to tango. Kalimat itu selalu aku katakan pada siapa pun yang tengah menjalani program hamil. Dibutuhkan komitmen dari suami dan istri untuk sama-sama berikhtiar. Bukan salah satu saja. Sayangnya aku tahu betul, tak sedikit suami di luar sana yang hanya meminta istrinya untuk beriktiar, tapi dirinya sendiri menolak untuk meminum obat yang diberikan dokter.

Itu sebabnya aku terharu setiap melihat bagaimana Evan dan Paige saling memberikan dukungan ketika menjalani IVF. Bagaimana ketika Paige mulai mengeluhkan kondisi badannya akibat pengaruh obat hormon, dan Evan begitu pengertiannya, membantu apa pun yang bisa ia bantu.

Ngomong-ngomong, kenapa aku jadi membahas Evan dan Paige? Ini semua gara-gara Pipit yang mengusulkan tema Kisah Cinta Paling Berkesan untuk Enchanting Ladies di minggu ke-5 ini. Sumpah, ini adalah tema terberat yang bikin aku memutar otak hingga memakan otak (otak-otak maksudnya) memikirkan apa kisah cinta yang paling berkesan buat aku.

Aku ini ratu drama. Pecinta kisah-kisah romantis. Dan selalu sukses membuat sungai di pipiku setiap ada adegan yang menyentuh perasaan. Semua berkesan. Nah lalu, aku harus menulis kisah yang mana? Hampir saja aku menuliskan kisah cinta Noah dan Allie untuk tulisan ini. Tapi rasanya kisah itu terlalu klise. Semua orang juga tahu bagaimana The Notebook sangatlah romantis. Apalagi aku tidak pernah merasakan yang dirasakan oleh Noah dan Allie.

 

Yup, seberkesan apa pun kisah cinta yang pernah aku tonton ataupun aku baca, kisah aku sendirilah yang rasanya paling berkesan.

Aku bersyukur sekali ketika menjalani program hamil, paling tidak Mas Met selalu berada di sisi aku. Berusaha tidak mengeluh ketika harus menegak aneka obat hingga vitamin, meski aku tahu bahwa dia tidak pernah bisa menegak obat sebelumnya. Meski tak selalu bisa menemani aku untuk kontrol dokter di hari-hari kerja, tapi paling tidak, dia selalu membiarkan aku meluapkan segala emosi yang aku rasakan akibat pengaruh obat hormon. Kami tetap menyanyikan lagu-lagu Sheila on 7 dengan bersemangat pada pukul 2 dini hari meski sebenarnya mata ingin terpejam hanya demi menuju UGD agar aku bisa melakukan suntik pemecah sel teluh.

Yang paling aku syukuri adalah Mas Met tak pernah mengeluhkan segala tindakan yang harus ia lakukan untuk program hamil ini. Bahkan kalimat kesukaan aku yang meluncur dari mulut dia adalah,”Seharusnya suami diperiksa lebih dulu daripada istri. Laki-laki itu lebih mudah, hanya harus mengeluarkan sperma. Sementara kalau perempuan, yang diperiksa adalah bagian dalam. Kasian. Pasti sakit.”

Di saat kebanyakan kaum laki-laki merasa harga dirinya terluka ketika harus mengeluarkan sperma pada sebuah wadah, tapi aku bersyukur, pria kesayangan aku justru tidak berpikir seperti itu. “Ini adalah komitmen kita bersama, kita harus jalaninya bersama-sama. Apa pun itu,” lanjutnya.

03:08 leaving the hospital. One of my favorite our love moment

Kisah aku ini mungkin dirasa biasa saja bagi kalian yang membacanya. Tapi bagi aku yang mejalaninya, ada perasan hangat di dada setiap kali aku mengingat bagaimana perjuangan kami ini. Seperti quotes yang tadi kutuliskan, kisah cinta aku adalah kisah favorit aku. Seperti kisah-kisah yang pernah aku tulis sebelumnya.

baca juga: The Day I Met Him
baca juga: The Day He Ask Me to Marry Him

Semoga saja aku bisa mengisahkannya dengan baik sehingga kalian bisa merasakan yang aku rasakan meski sedikit.

Kira-kira kisah cinta paling berkesan bagi Mude, Pipit, Rhos dan Zahrah seperti apa ya? Coba dikunjungi juga link-lini ini:

ZahrahSepeda Motor, Kenangan, dan Lelaki Tercinta

Siti MudrikahKisah Lama Tentang Cinta yang Tak Lekang oleh Masa

PipitNembak Duluan dan Ditolak Sampai 2 Kali

RhosandhayaniCatatan Terakhir Tentangnya

Dan jangan lupa, untuk menceritakan kisah cinta paling bekesan kalian di kolom komentar. Siapa tahu aku bakal kembali menitikan air mata membaca komentar-komentar kalian.

Oh iya, untuk selanjutnya tulisan Enchanting Ladies akan hadir dua minggu sekali ya. Harap sabar menanti kejutan tema-tema kami.

3 Comments

  1. Salut sama pasangan yang tetap saling mendukung dalam keadaan apapun, mngkin itu arti Cinta yg sebenarnya saling mengisi kekurangan dan tidak menjadikan kekurangan pasangan kita sebagai alasan untuk berubah. Semoga alloh memberikan kemudahan pada apa yang dicita2kan oleh teh Dian dan suami. Aamiin

  2. Huahahaa teeeeh
    Yang tokoh2 di film tersebut, namanya asing semua di telingaku. Sampai2 aku nggak bisa bedain mana yang cowok atau cewek berdasarkan namanya

    Eeeeh aku juga pengen teh
    Menulis hal sederhana, cerita remeh temeh ketika aku bersama suami. Hihihiiii… Kapan ya aku bisa nulis seperti itu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *