Mengenang Perubahan Pembelian Tiket Kereta Api dari Masa ke Masa

Bismillahirohmanirohim,

Suasana cafe ini masih tampak sepi. Tak heran sih, waktu baru menunjukkan menjelang pukul 10 lewat beberapa menit. Tempat ini bahkan baru buka.  Biasanya nanti saat mendekati jam makan siang tempat ini baru akan dipenuhi para pelanggannya.

Aku menatap ke sekeliling cafe. Aku selalu suka sama tempat ini. Temboknya batu bata berwarna putih, lantainya lantai kayu dengan warna muda. Meja kayu berwarna mint dengan kursi warna coklat muda dan putih mendominasi tempat ini. Tapi tempat yang paling aku sukai adalah dereta sofa-sofa yang berada di bagian paling ujung ruangan cafe ini. Agak sedikit mojok dengan dekorasi monokrom. Itu adalah tempat favorit aku setiap ada janji presentasi dengan client. Mungkin sugesti, rasanya setiap presentasi di tempat ini, aku selalu berhasil mendapatkan proyeknya.

Aku menatap jam. Masih banyak waktu sebelum client tiba, mengingat janji kami hari itu adalah jam 11 siang. Aku masih bisa membaca-baca bahan presentasi terlebih dahulu agar lebih yakin. Baru juga menyalakan laptop, aku melihat sebuah pesan masuk di smartphone milikku. Bintang, begitu nama pengirimnya terbaca olehku. Aku pun langsung membukan pesan dari sahabat aku tersebut.

“Jeng, liburan yuk. Gue lagi jenuh.”

“Kemana? Asal enggak lama-lama ok aja.”

“Solo yuk? Naik kereta. Weekend. Yang penting liburan. Butuh banget nih.”

“Bolehlah.”

“Ok kalau gitu. Gue beliin dulu tiketnya ya. Gue masih punya data lo dari liburan terakhir kita kok. Elo tinggal transfer aja nanti.”

“Oh, kirain tinggal bawa badan aja. Elo yang traktir. ehehe…”

“Sialan. Gue mau cari tiket dulu. Good luck for your presentation!”

Asik. Liburan akhir pekan bersama Bintang, adalah salah satu yang aku butuhkan saat ini. Beberapa bulan terakhir ini kami memang sama-sama sibuk. Belum-belum sudah bisa dipastikan kalau Solo akan menjadi gateway yang menyenangkan. Ah, aku jadi enggak sabar.

Mari kembali fokus pada kerjaan aku hari ini. Aku membuka file bahan presentasiku. Tapi belum ada lima menit lagi-lagi gangguan datang dari smartphone berwarna rose gold milikku.

“Done ya, Jeng. Kita beruntung. Gue dapet promo tiket kereta api murah. Pokoknya weekend besok elo terikat sama gue. Kita senang-senang bersama. Lupain dulu kerjaan.”

“Wahhh dapet promo. Berarti gue enggak usah bayar dong ya.”

“Duh elo tuh ya, tetep cari gratisan. Udah ah, gue balik kerja dulu.”

Nostalgia Membeli Tiket Kereta Api

Beli tiket kerea api sekarang ini memang praktis ya. Enggak perlu harus pergi ke stasiun. Cukup dari telepon pintar saja, kita sudah bisa melakukan transaksi pembelian tiket kereta. Enggak perlu bermacet-macetan ke stasiun, enggak perlu ngantri di loket, bahkan sampai nginep di stasiun.

Aku belum pernah sih ngalamin perjuangan beli tiket sampai harus tidur di stasiun. Karena biasanya itu terjadi di saat-saat mudik. Iya, dulu itu beli tiket enggak bisa jauh-jauh hari sebelum keberangkatan seperti saat ini. Aku lupa persihnya berapa lama persisnya minimal pembelian tiket kereta api jaman dulu, yang jelas dekat-dekat hari keberangkatanlah. Dan harus di kotanya langsung ya! Jadi enggak mungkin tuh beli tiket buat pulang pergi.

Calo menjadi solusi terbaik untuk membeli tiket kereta pada masa itu. Ya, meski harus merogoh kocek lebih mahal tentunya. Tapi daripada harus sampai tidur di stasiun demi berburu tiket, yang kadang berakhir dengan papan bertuliskan TIKET HABIS.

Jaman pacaran dulu, aku pernah menemani Mas Met berburu calon tiket untuk mudik. Itu pun ternyata susah-susah gampang. Mana ada calo pasang papan pengumuman “GUE CALO. BUTUH TIKET? SINI SAMPERIN GUE!” Apalagi saat itu, petugas keamanan mulai ketat terhadap calo-calo. Akhirnya cari info mulut ke mulut untuk mendapatkan tiket kereta api.

Di awal-awal masa pernikahan, beberapa kali aku mudik menggunakan kereta api. Untungnya aku selalu mudik ke Jawa Timur H+2, sehingga enggak sampai harus ngantri panjang seperti keberangkatan sebelum hari raya. Tapi karena aku berangkat dari Bandung, otomatis aku harus mencari pertolongan juga untuk membelikan tiket. Untung saja ada sepupu yang selalu ikhlas membantu. Hatur nuhun.

Entah sejak kapan akhirnya aku berhenti naik kereta api. Selain karena malas perjuangan membeli tiketnya, butuh waktu satu malam untuk memasuki kota Surabaya, ditambah 5 jam perjalanan lagi untuk sampai ke rumah ibu di Bondowoso, membuat aku dan suami berpikir, “Kok abis waktu di jalan ya.”

2014 lalu aku kembali menikmati naik kereta api. Liburan bersama teman ke Cirebon. Kali ini cara pembelian tiket kereta api sudah lebih mudah. Bisa dibeli di gerai-gera mini market. Aku masih ingat komentar Anggi, salah satu teman perjalanan aku saat itu. Sambil proses pembelian tiket dia tak berhenti memuji mudahnya beli tiket kereta.

baca juga: 7 Things To Do in Cirebon

“Tahu enggak, dulu itu gue kan selalu naik kereta Bandung-Jakarta. Itu susah banget beli tiketnya. Gue harus ke Gambir dari rumah gue di Bekasi, cuma beli tiket. Berangkatnya kadang masih besok atau lusanya. Duh, Mas, kenapa enggak dari jaman saya kuliah sih jual tiket kereta api gini juga.”

Itu di 2014. Sekarang makin canggih lagi. Tiket kereta cukup dibeli secara online. Tapi enggak cuma tiket sih. Belanja apa pun sekarang bisa dilakukan melalui jaringan internet. Lebit irit di bensin dan waktu. Nah kalau jual beli online terpercaya di Tokopedia.

Kalian pernah juga mengantri tiket di loket? Yuk, nostalgia bersama aku di kolom komentar.

 

10 Comments

  1. Aku sih mulai menggunakan fasilitas transportasi KA sejak 2014, tepatnya saat mulai kuliah. Jaraknya gak jauh sih, 2 jam aja. Tapi ya pernah ngalamin harus antre2 gitu.

    Terus waktu keciiiil banget, diajakin tante dari Sidoarjo ke Malang (2 jam), yang tanpa tempat duduk dan sistem masih buruk. Ada ayam, duduk tidak sesuai kursi, dll.

    Sekarang, saya acungkan jempol banget sih dg layanan dari petugasnya. Tapi satuuu lagi. Masih sering kecolongan kebersihan WC nya 🙁

  2. Betull mba, sekarang memang serba mudah. Aku kalo beli tiket kereta api juga selalu online, males keluar rumah dan memang ga punya kendaraan soalnya hehe.

  3. Hahahahaa..aku pernah mengantri di loket, ampoon panjangnya. Dan yang menyebalkan bikin gondok itu, pas giliran aku beli udah abis. Rasanya pengen nyakar mas2nya hahahaaaa

    Tapi sekarang mah dipermudah banget ya, tinggal duduk manis aja pesennya.

  4. Aku sih ga ngerasain mesti antri di loket demi beli tiket kereta api mbak.. Paling banter beli online atau lewat indomaret.
    Ah, teknologi memang memberikan kemudahan buat kita ya.. ^^

  5. Sejauh ini ga sampai segitunya kalau mau beli tiket kereta. Alhamdulillah selalu dapat aja. Mungkin karena kalah mau pake kereta nya pas bukan musim mudik jadi stok banyak…

  6. Sampai sekarang saya beli di loket mbak kalau jarak dekat. Misal Malang-Surabaya atau malang-Tulungagung gitu soalnya lebih murah dari online

  7. Sekarang enak yaaaa, bisa beli onlen kyk di tokopedia utk tiket. APalagi kereta api jg makin oke fasilitasnya, meski cuma kelas ekonomi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *