The Day He Ask Me To Marry Him

Bismillahirohmanirohim,

Dan berikanlah mahar (mas kawin) kepada perempuan yang kamu nikahi sebagai pemberian yang penuh kerelaan.

(Q.S. An-Nissaa : 4)

Mahar atau biasa disebut dengan mas kawin merupakan salah satu syarat sah dalam pernikahan Islam. Makanya tak usah heran ketika dalam proses lamaran,  pihak calon pengantin laki-laki akan menanyakan soal mahar yang diminta dari calon pengantin perempuannya. Karena makna dari mahar itu sendiri adalah untuk memuliakan perempuannya. Setiap calon pengantin perempuan berhak menentukan mahar idamannya.

Meski begitu, Rasulullah SAW pernah mengatakan:

Sebaik-baiknya wanita ialah yang paling murah maharnya.

(HR Ahmad, ibnu Hibban, Hakim & Baihaqi)

Tentu saja artinya bukan kita, kaum wanita jadi berlomba-lomba meminta mahar semurah-murahnya. Tidak juga. Tapi maksud dari hadist tersebut adalah sebisa mungkin kita tidak memberatkan calon suami kita atas mahar yang kita minta. Sesuaikan dengan kemampuan yang ada.

Kalau calon suami kita menanyakan mahar impian kita adalah hal yang wajar, lantas bagaimana ketika Rhos yang bertanya apa mahar impian kita. Nah loh! Grup Enchanting Ladies dibuat bengong akhir pekan lalu ketika akhirnya tiba giliran Rhos yang memberikan tema menulis mingguan kami. Aku? Cuma bisa ketawa ngakak (sambil diam-diam mikir juga sih).

By the way, ngomong-ngomong soal Enchanting Ladies, aku sedih sekali baru tahu Selasa kemarin kalau ternyata tulisan aku minggu lalu raib. Jadi laptop aku ngambek sampai saat ini sehingga aku mencoba menulis dari handphone. Meski susah-susah gampang, tapi alhamdulillah berhasil published beberapa tulisan. Nah tapi mungkin jari-jariku ini terlalu lincah sehingga tanpa sadar aku malah menghapus tulisanku Kamis lalu. Pengen nangis rasanya, nulis susah payah panjang kali lebar raib begitu saja. Tapi yaaaa I need to move on from my sadness, insya Allah aku akan mengulang kembali tulisan tersebut, tapi sabar ya.

Mari kembali ke tema minggu ini, mahar. Siapa sangka, meski sudah menikah aku tetap berpikir keras untuk menulis soal mahar idaman ini. Terus terang dari dulu pun aku enggak pernah mikirin mau mahar apa, ya persis kaya sekarang ini, bengong, berpikir keras ketika menentukan mahar. Tadinya aku berpikir untuk coba membuat sebuah list mahar idaman, tapi karena mentok juga, jadi aku akan menceritakan soal persiapan ketika menikah dulu. Anggap saja ini lanjutan dari kisah pertemuan aku dan Mas Met.

Baca juga: The Day I Met Him

The Day He Ask Me To Marry Him

Duh judulnya maksa ya. Biar kaya film-film yang judulnya mirip dengan sebelumnya. ahahaha… Sesuka aku lah. Sebenarnya enggak tepat juga sih kalau bilang Mas Met melamar aku. Just like he never asked me to be his girlfriend, he also never asked me to married him. Jangan coba-coba membayangkan adegan berlutut dengan sambil menyerahkan sebuah cincin, karena kisah itu enggak ada dalam kisah Dian Metra.

Yang ada hanyalah percakapan menjurus pada masa depan, ketika ibu untuk pertama kalinya akan berkunjung ke ibukota menemui anak bungsunya ini di April 2003. Aku enggak kebayang juga sih apa yang sudah dibahas sama Mas Met dan kedua orangtuanya sebelum tiba di Jakarta. Pokoknya yang jelas tahu-tahu saat berkunjung ke rumah dan ketemu mama papa, percakapan serius berlangsung. Intinya sih ibu maunya kami tunangan saja, jangan dulu menikah, mengingat tanggungan Mas Met masih banyak. Mamaku pun yang sebelumnya sudah mengiyakan permintaan Mas Met, mendadak berubah pikiran, untuk tunangan pun menurut mama usia aku masih terlalu muda.

Lah, terus gimana reaksi aku? Terus terang aku sih cuek aja. Entah kenapa dari awal aku menjalin hubungan sama Mas Met aku sudah tahu kalau kami serius. Hanya akan dibawa bagaimana kisahnya, aku ikuti saja rencana Allah.

Bulan Juli mama mendadak berubah pikiran. Habis liburan sama adik bungsuku di Bali, tahu-tahu saja mampir ke Bondowoso dan menemui ibu dan bapak. Lagi-lagi aku enggak ngerti mereka membahas apa (iyalah, akunya di Jakarta). Pokoknya tahu-tahu sampai rumah langsung bilang, “Teteh nikahnya bulan Januari ya.” Aku bengong.

6 bulan mungkin bukanlah waktu yang panjang untuk menyiapkan sebuah pernikahan, tapi aku tetap sok cuek dan santai. Sampai…

Suara dering telepon membuat aku yang baru juga hendak memejamkan mata sesusai shalat subuh urung. Meski tetap saja aku tak beranjak dari tempat tidurku. Tugas kuliah menjelang ujian akhir membuat tubuhku ingin istirahat. Apalagi itu hari Jumat, awal weekend di kampus aku.

Samar-sama aku mendengar suara mama tengah bercakap-cakap di telepon. Dari suara yang terdengar aku menduga yang menelepon adalah ibu. Paling membahas rencana kedatangan ibu Desember nanti, pikirku, sambil kembali bersiap-siap untuk memejamkan mata.

Tak berapa lama, aku mendengar ketukan di pintu kamarku. “Teh, udah bangun belum? Itu tadi ibunya Metra yang telepon. Katanya keluarga Metra mau datangnya Agustus saja, biar enggak capek. Kalau Desember kan capek, Januari ke sini lagi.”

“Oh, iya, Ma,” jawabku asal tanpa ada niatan untuk bangun. Tapi belum ada 5 menit, otak aku mulai bekerja. Wait, Agustus ke Jakarta? Lamaran dong.

Mau tak mau akhirnya aku turun dari tempat tidur dan bergegas menghampiri mamaku. “Ma, ibu tanggal berapa ke Jakartanya?”

“13 Agustus lamarannya katanya.”

“Hah? 2 minggu lagi dong. Terus aku mesti nyiapin apa?”

Cincin Kawin

Sabtu pagi aku sudah rapi di parkiran kampus Mas Met bersama Kia Silver yang setia menemaniku selalu. Jadwal kuliahku libur Jumat, Sabtu, Minggu, tapi Mas Met justru kuliah setiap hari Sabtu.

Berdasarkan percakapan dengan mama kemarin, kami perlu cincin untuk lamaran nanti. Cincin yang sama dengan cincin nikah. Nantinya hanya tinggal pindah jari saja. Jadi agenda pacaran aku minggu ini sudah dipastikan mencari sepasang cincin yang akan menjadi simbol cinta kami.

Pasar Cikini menjadi tempat kami mencari cincin. Ditemani Hadi dan Ratih, teman kampus sekaligus teman kantor Mas Met, mereka menunjukkan toko perhiasan yang katanya biasa menjadi langganan kantor. Tak butuh waktu lama bagi kami untuk memilih desain cincin. Pokonya aku cuma mau sederhana, kombinasi emas putih dan emas kuning.  Hadi dan Ratih dibuat takjub dengan cepatnya kami memilih. Rupanya mereka juga baru saja memesan cincin tunangan, dan butuh waktu seharian untuk mendapatkan desain idaman.

Singkat cerita, alhamdulillah acara tukar cincin aku dan Mas Met berjalan lancar. Cincin emas itu tersemat cantik di jari manis kananku. Siap untuk dipamerkan ketika libur kuliah telah usai.

Mas Kawin

Seakan enggak belajar dari pengalaman sebelumnya saat terburu-buru mencari  cincin kawin, aku pun tetap mepet saat beburu mas kawin. Tapi lagi-lagi aku enggak butuh waktu lama untk mencari perhiasan untuk dijadikan mas kawin. Intinya aku memilih mas kawin yang standar, satu set perhiasan.

Kalau ditanya apakah itu mas kawin idaman aku? Aku akan menjawab jelas tidak. Aku bukan tipe yang senang menggunakan perhiasan emas dari kecil. Bahkan seingat aku sepertinya aku hanya pernah menggunakan mas kawin kami 1-2 kali sepanjang usia pernikahan kami ini.

Mahar boleh jadi merupakan salah satu syarat sah pernikahan dalam Islam. Tapi bukanlah kunci dalam mempertahankan rumah tangga. Berbekal dari pengalaman sendiri, sebaiknya mintalah mahar yang berguna setelah berumah tangga nanti. Biar enggak mubazir.

Jangan lupa untuk membaca tulisan cewek-cewek tangguh anggota Enchanting Ladies lainnya ya:

Mahar ? – Rhos

Pinang Aku dengan Bahagia – Zahrah

Yakin Ini Maharnya? – Pipit

Mahar di Hari yang Tepat – Mude

37 Comments

  1. Cincin emas itu tersemat cantik di jari manis kananku. Siap untuk dipamerkan ketika libur kuliah telah usai –> ish, kalimat ini kok nyebelin banget ya
    Berarti gitu juga ya pikiran temen2ku yang nikah saat jadi mahasisswa… Duh laaaah bikin iri

    • duhhhh aku pengen ngakak baca komen kamu ahahahaha….
      Enak dong, nikah sebelum lulus. Ada yang bantuin saat skripsi, paling ga bantuin nyiapin cemilan saat begadang.

  2. waa, emang benar sebaik-baiknya wanita yang paling murah maharnya.. dan sebaik-baiknya pria yang memberikan mahar terbaik yang dia bisa berikan wahahaha

    dulu mahar istriku kepingan emas, pengennya kasih segede monas tapi apa dayaku T.T

  3. Teteeh, rasanya mau ku unpublish tulisan aku T_T
    malu aku tuh /gegulingan/

    Cerita ini dipadatkan banget kan ya? Masa iya teteh sesantai dan secuek itu? Tapi teteh cinta gak sih sama pak Met?

    Teteh kenapa menerima pak Met? [?]

    Ini kayanya banyak bagian yang dihilangkan……ayo bikin sequel teh! xD

  4. Boleh doonk aku bertamu ke istana teteh sama akang..
    Pingin lihat langsung gimana keseharian teteh…mmuummuummuu…
    Teteh keren sangat.

    Barakallah fiikum untuk teteh sekeluarga.
    In syaa Allah bahagia till Jannah.

    • keseharian aku mah ga patut dicontoh, Mbak. Tukang main. ahahahaha… Baru aja kena tegur karena bulan ini kebanyakan kelayapan hihihihihi

  5. kemarin aku dsruh minta mas kawin kekinian, gak usah banyak banyak cuma beberapa lembar saham syariah yg lumayan liquid. terus aku jadi omongan sekampung deh .. wkkk

  6. Mahar juga enggak selalu uang walau kebanyakan milih uang atau perhiasan sih. Ah suka2 si perempuan dan yg jelas enggak memberatkan

  7. Ini nih, emang lebih greget ya kalau yang nulis yang udah nikah, udah jelas nyata dan diterima lah daripada yang nulis kayak komedi gini *melirik tulisan sendiri

    Aku suka banget sama penutupnya, mahar memang syarat penikahan tapi bukan kunci keutuhan rumah tangga, sedaaap!! Ngomong2 itu quote dapat dari mana teh? *kabuurr!!

  8. duh ga bisa ngomong apa-apa nih.. aku sosok orang yg ga romantis, gajelas, peragu dan “cengok” suka bingung. Dulu semua-mua (calon) istriku yang urus. Bingung haha cuman modalnya berani aja. Berani bilang kapan waktunya akan datang ke rumah melamar. Trus jadi. Tapi all is well.. berantem2 sih biasa tapi I love my family very very much!

  9. Masya Allah. Semoga pernikahan mba nanti dipenuhi keberkahan dunia-akhirat. Berlimpah rejekinya, mendapatkan keturunan yg solih/at, dan menjadi tauladan umat. Aamiin!

  10. hmmm urusan mahar memang saya sudah lupa. DUlu yang urus smua istri (calon) haha.. lelaki yang terlalu cuek, hanya modal berani melamar aja dan smua tektokan sama istri mau gmana-gmana mau beli apa brapa gram dst. Kumpulin duit kasih ke dia, kita juga patungan untuk seserahan dll. Maklum sama-sama anak rantau dan ngga punya banyak duit.

  11. Kupinang kau dengan bismillah. Aseekk.. Hohoho.
    Btw aku baru tau namanya mas Met itu Metra. Kukira Slamet ✌️
    *sungkem ke Teh Dian

    Mahar yang pasti berguna biar ga mubadzir. Hmmm.. Rumah dan mobil

  12. Waaaaah teh Dian santai pisan euy, kalo aku kayanya panik panik panik panik ngahaha XD gatau juga si, masih lama, masih belum keliatan calonnya, masih jauuuuuuuh XD

  13. Ketika membaca bagian ini “. Just like he never asked me to be his girlfriend… ” entah kenapa aku jadi seperti berkaca pada diri sendiri, saya pun ketika menjalin hubungan sama dia, tanpa acara seperti itu, kami hanya mengobrol satu sama lain, perihal hati pikiran dan masa depan.

    Yg belum mungkin soal bagian melamarnya haha

    Setelah selesai membaca ini, entah kenapa saya malah merekomendasikan tulisan ini kpd kekasih saya utknmembacanya juga X)

  14. judulnya cocok untuk jadi judul novel mbak ehhehe

    ia memang sebenarnya
    “Sebaik-baiknya wanita ialah yang paling murah maharnya.
    (HR Ahmad, ibnu Hibban, Hakim & Baihaqi)”

    Tapi eh tapi, pada kenyataanya banyak wania yang meminta mahar tinggi kepada calon suaminya, sampai-sampai nikahnya tertunda lama, kasihan kaum adam

  15. Waaahh aku ketinggalan. Ini tulisan kolaborasi gtu ya mbak?
    BTW secuek apa mabk? Hahaha. Pokoknya cepet nikah dan halal aja gtu ya? Justru mikirin masa depan setelah penikahan yg penting hehe 😀
    Jd keinget dulu nyiapin nikahan cuma 2 bulan hehe. Maharnya gk minta aneh2 sih. Malah dulu pengennya gk usah resepsi. Tapi apa daya mertua dan ortu sama2 baru pertama kalinya nikahin anaknya jdnya nurut ortu buat nyenengin mereka aja 😀

  16. Baca tuilsan ini jadi ingat zaman dulu saat akan nikah,tapi saya nikahnya sederhana dan nggak minta mahar macem-macem,waktu itu cukup mas kawin, hahaha ada rasa menyesal juga sih nggak minta macem-macem

  17. Betul Mbak..mahar itu kalau bisa jangan yang terlalu mahal. Karena bagaimana pun itu nanti jadi tanggungjawab laki-laki sebagai suami. Dan seperti mbak Dian bilang, mahar memang syarat pernikahan tapi gak menjamin akan melanggengkan sebuah rumah tangga. So … sesuaikan dengan kemampuan calon mempelai pria, aja, deh!

  18. Hahaha ya ampun moment itu.. Seru ya mba.. Saat itu akupun antara keluarga ketemu dan pernikahan hanya berjarak 6 bulan. Kebayang nyiapin segalanya dalam waktu singkat. Pas lamaran mendadak bingung..

  19. Aih…. aku mau komentar apa ya? Mahar, mas kawin dan pernikahan. Aku yakin pasti banyak yang baper nih. Cewek cewek mulai mengecek unur dan rencana sedangkan cowok cowok mulai ngitung tabungan 🙂 jadiiiii…… ……

  20. Kau gak mau nikah ulang ala2 yg lbh romantis Mbak? Kayanya lucu, hahaha

    Aku pernah mikir mau mahar sesuatu yg aneh, beda dr yg lain. Tp masalahnya, si cowok ini siapa. Jgn2 kalau minta itu dia malah yg susah. Kan mahar itu paling gak sesuai sama kemampuan si pria

  21. Waduh. Susah sih lita untuk menebak apa yang diinginkan oleh cewek kelak jika aku akan mempersunting dia. Tapi, aku sih ingin cewek yang menjadi pembimbing serta pendamping di kala saat atas ataupun bawah. Menyemangati dan wuh intinya mau diajak ngapa2in itu bareng

  22. 2003 Mbak Dian udah kuliah, aku masih kelas 1 SMP
    So sweet juga yah ceritanya hehehe jadi ingat aku juga punya PR nyari cincin haha

  23. cincin nikah ku begitu hamil dan melahirkan mendadak nggak cukup, hiks. malah curcol. aku juga dilamarnya langsung ortunya datang nemuin ortuku, akunya dibalik pemisah ruang tamu dengan ruang keluarga, nguping gitu pada ngomongin apa sih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *